Home      Profil Metris      Artikel     FAQ     0pportunities

Mengapa Belajar Aritmatika dengan Metode Horisontal?

Bayangkan anda atau anak anda mampu menghitung bilangan-bilangan besar tanpa menggunakan kalkulator. Bayangkan juga bisa memeriksa kesalahan hitungan yang telah dilakukan dengan cepat tanpa harus bertanya kepada orang lain. Bisakah anda membayangkan reaksi teman-teman dan keluarga kita bila anda bisa menghitung akar pangkat dua atau atau akar pangkat tiga dengan cepat tanpa kalkulator? Akankah mereka kemudian memberikan perlakuan yang berbeda terhadap anda atau anak anda? Bagaimana pula rekasi guru, dosen, teman kerja, dan pimpinan anda?

Sebagian besar orang menganggap bahwa kemampuan matematika sama dengan kecerdasan. Jika seseorang mampu mnghitung perkalian, perkalian, pengkuadratan dst dengan cepat tanpa menggunakan kalkulator, maka orang tersebut akan dianggap orang yang sangat cerdas dan kemudian akan diperlakukan secara berbeda dengan lingkungan anda. Karena DIPERLAKUKAN sebagai orang yang cerdas, maka ia akan cenderung BERTINDAK dengan cerdas pula.

Mengapa Kita mengajarkan Aritmatika Dasar padahal telah ada Kalkulator?

Banyak orang bertanya, kenapa kita masih mengajarkan penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dst padahal sudah ada kalkulator yang siap kita gunakan? Bukankah mengajar berhitung seperti ini adalah membuang-buang waktu saja? Bahkan banyak orangpun berpendapat anak-anak tidak perlu hafal bahwa 5 ditambah 2 sama dengan 7 atau 2 kali 3 sama dengan 6 karena sudah ada kalkulator.

Untuk menjawab pertanyan-pertanyaan seperti ini, kita langsung dapat menguji anak-anak untuk menggunakan kalkulator mereka untuk menghitung “ Dua ditambah Tiga dikali Empat sama dengan…..?”. Dijamin sebagian dari mereka akan menjawab Dua Puluh (20) karena kalkulator mereka menunjukkan angka tersebut. Sebagian lainnya yang menggunakan kalkulator yang dilengkapi program akan menjawab dengan benar yaitu Empat Belas (14). Sebuah kalkulator tidak bisa berpikir untuk anda. Jadi anda sendiri yang harus memahami apa yang kamu lakukan. Jika tidak memahami matematika dengan baik, kalkulator hanya sedikit membantu.

Belum lagi tidak setiap saat kita memegang kalkulator seperti waktu belanja di supermarket. Bagaimana bisa kita mengecek hasil perhitungannya benar, jika kita tidak dapat menghitung tanpa menggunakan kalkulator. Di sini anda menjadi tergantung kepada kalkulator dan tidak mempercayai KEMAMPUAN anda sendiri. Selain itu pula, sudah umum bahwa kita kadang-kadang harus melakukan psikotes bagian kemampuan numerik ketika ingin mencari sekolah atau mencari kerja. Dalam psikotes seperti ini ini tentunya akan dilarang keras menggunakan kalkulator, bahkan anda juga dituntut untuk menghitung dengan cepat untuk menyelesaikan soal-soal matematika dalam waktu yang terbatas.

Apakah Kemampuan Metematika adalah Bakat?

Seringkali ada keluhan dari antara kita, bahwa mereka tidak mempunyai bakat matematika. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, apakah benar ada orang yang mempunyai kelebihan di bidang matematika ini dibandingkan orang lain? Dengan melihat kenyataan yang ada, jawabnya memang benar bahwa memang ada yang genius di bidang matematika ini. Biasanya mereka membawa bakat keturunan dari keluarga mereka atau lingkungan kehidupan mereka. TETAPI hal ini bukanlah alasan yang kuat, untuk menguasai Aritmatika Dasar, yang dalam menguasainya  TIDAK DIBUTUHKAN otak yang super, hampir semua orang dengan kecerdasan rata-rata akan mampu menguasai dengan baik. Perbedaan antara orang yang sukses dengan orang yang tidak sukses adalah sebenarnya bukan masalah otak yang dimiliki sejak lahir tetapi bagaimana mereka menggunakan otak yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya. Orang sukses menggunakan STRATEGI dan POLA yang lebih baik dibandingkan orang yang tidak sukses dalam memecahkan persoalan mereka.

Dalam Metode Horisontal, terdapat tahap-tahap pendidikan aritmatika yang terstruktur jelas, yaitu Tahap Pengenalan Bilangan, Tahap Perhitungan Tradisional, Tahap Perhitungan Mental dan Tahap Kreatifitas. Dua tahap pertama yaitu Tahap pengenalan bilangan dan Perhitungan Tradisional biasanya telah diajarkan di dalam sekolah formal, tetapi untuk Tahap Perhitungan Mental dan Kreatifitas biasanya belum diajarkan dengan baik. Dalam Tahap Perhitungan Mental, siswa dituntun untuk menerapkan Strategi menghitung yang Konsisten dan dapat Divisualisasi sehingga mereka dapat melatih proses perhitungan dengan berulang-ulang dan kemudian berusaha memvisualisasi proses tersebut sehingga dapat menghitung hanya dengan pikiran tanpa bantuan alat apapun juga. Dalam Tahap Perhitungan Mental ini, siswa akan merasakan peningkatan daya konsentrasi, membangun ingatan dan yang terpenting adalah tumbuhnya Kepercayaan Diri akan kemampuan matematika yang mereka miliki.Dengan tumbuhnya kepercayaan diri ini otomatis mereka akan menyukai matematika dan kemudian mulai mengeksplorasi soal-soal matematika yang ada.

Selanjutnya setelah siswa melalui tahap perhitungan mental, mereka akan memasuki Tahap Kreatifitas. Di sini, mula-mula anak diajarkan untuk menurunkan setiap formula yang telah mereka pakai dalam tahap sebelumnya. Dan kemudian diajarkan bagaimana untuk memodifikasi formula-formula tersebut untuk mempercepat dan mempermudah perhitungan. Selanjutnya mereka diperkenalkan dengan teka-teki (puzzle) matematika yang umumnya berupa soal-soal cerita untuk mengasah kreatifitas mereka dalam memecahkan permasalahan. Selain itu mereka juga akan mempelajari Metode Pemeriksaan yang akan memberikan umpan balik setiap jawaban yang telah mereka hasilkan. Jadi ketika mereka membuat kesalahan, dengan segera akan tahu dan bisa membetulkan dengan segera tanpa harus bertanya dengan orang lain. Tentunya hal ini akan memotivasi mereka untuk menggali lebih dalam setiap soal-soal matematika yang dihadapi. Dalam tahap ini, siswa akan mampu memecahkan setiap persoalan matematika dengan kreatif, mereka akan dapat melihat hubungan antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lain dan tentunya hal ini akan membuat mereka semakin Yakin dengan kemampuan mereka sehingga tidak mudah menyerah ketika menghadapi soal-soal yang baru sama sekali.

Bayangkan ada dua siswa yang sedang duduk di dalam kelas dan gurunya memberikan sebuah soal matematika yang baru. Siswa A mengatakan, “ Soal ini sangat sulit. Guru belum mengajarkan cara mengerjakannya, jadi bagaimana saya dapat mengerjakannya? Guru yang menyebalkan. Matematika yang sungguh menyebalkan!”. Sedangkan siswa B yang telah terbangun Kepercayaan Diri dan Kreatifitasnya akan menjawab, “ Soal ini memang sulit, Guru belum mengajarkan cara mengerjakannya. Akan tetapi guru pasti memberikan soal sesuai dengan kemampuan saya dan soal ini diberikan agar saya bisa semakin mandiri dalam mengerjakan soal-soal matematika. Saya akan mulai mencoba memecahkannya, dari mana ya cara menyelesaikannya?”. Kedua siswa ini telah memulai sebuah pola, sebuah kegagalan dan sebuah kesuksesan. Apakah hal ini berhubungan dengan kecerdasan? Mungkin saja, tetapi tidak sepenuhnya benar. Kedua siswa tersebut mungkin saja mempunyai kecerdasan yang sama tetapi hanya sikapnya terhadap persoalan saja yang berbeda. Sikap mereka yang dipelajari pada masa lalu inilah yang kemudian akan berpengaruh pada kesuksesan mereka di masa depan.

 

BACK