|
Majalah
Tempo, Senin 4-10 Desember 2006
Mencongak
dengan Metris
Seorang
dosen menemukan metode aritmatika baru yang lebih mudah dan
cepat. Mengatasi
kelemahan Sempoa.
DUA jagoan
matematika itu berdiri berjejer di depan papan tulis.
Lawan mereka terpampang di
depan mata masing-masing: dua buah soal perkalian kuadrat.
Mereka harus adu cepat menyelesaikannya dengan metode
perhitungan berbeda.
Dalam dua
menit, pemenangnya tampak. Gung Kinaptyan, juara kelas VI
Sekolah Dasar Regina Pacis, Bogor, tersenyum sambil mengibaskan
sisa kapur di tangannya. Teman sekelasnya, Samuel Wirajaya,
pemenang kompetisi matematika terbuka tingkat SD se-Jabodetabek,
masih berkutat menyelesaikan soal.
Kamis pekan
lalu, guru mereka, Fransiska Ephi Sutisna, ingin membuktikan
bahwa ada cara lain untuk menghitung perkalian selain cara
tradisional, yaitu dengan mengalikan dari atas ke bawah, lalu
menjumlahkannya, yang sudah puluhan tahun diajarkan di sekolah.
Itulah cara yang dipakai Gung, dengan mengurutkan secara
mendatar dari kiri ke kanan.
Ternyata,
kata Ephi, ”Metode yang dipakai Gung memang lebih cepat.”
Siswa-siswi SD Regina Pacis menyebut metode itu Metris alias
Metode Horisontal. Sudah setahun terakhir Ephi mengajarkan
metode mencongak dari kiri ke kanan seperti itu kepada
murid-muridnya.
Metode baru itu ia pelajari saat kuliah di Fakultas Ilmu
Keguruan, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, tahun lalu.
Lantaran ia menganggap metode ini lebih cepat dan mudah
dipahami, ia melakukan uji coba pada murid-muridnya.
Metris
awalnya digagas oleh Stephanus Ivan Goenawan, 32 tahun, dosen
Fakultas Teknik Mesin, Unika Atma Jaya, Jakarta. Ivan tergerak
menyusun Metris karena melihat keterbatasan metode lama. ”Metode
itu hanya mengembangkan kemampuan analisis yang lebih meletakkan
landasan kemampuan numeris dan logika pada siswa,” ujarnya.
Alhasil, proses pengajaran dengan metode vertikal hanya
mengembangkan kerja otak kiri saja. Sedangkan Metris bisa
berfungsi untuk membentuk mental aritmatika yang merangsang
kreativitas.
”Kedua
metode sebenarnya saling bersinergi kalau diterapkan,” kata
Ivan. Dengan menggunakan Metris, para siswa tak hanya mempunyai
kemampuan numeris dan logika, tapi juga memiliki kepercayaan
diri dan daya kreativitas tinggi.
Metode yang
amat membantu siswa ini adalah buah kegemaran Ivan yang senang
bereksperimen menyelesaikan soal-soal aritmatika sejak di bangku
SMP Bruderan, Purworejo, Jawa Tengah. Ketika itu ia kerap
mencari jalan sendiri karena tak pernah puas dengan cara gurunya
menjawab soal. Dalam pencarian, ia menemukan banyaknya
keteraturan angka dalam setiap soal yang diberikan gurunya.
”Sejak itu saya mulai menggunakan segitiga paskal dan notasi
pagar, sebagai cara menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Ketertarikan
pada aritmatika pula yang membuat Ivan memilih kuliah di
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Gadjah Mada. Enam tahun lalu, Ivan mulai merumuskan metode
arimatika horizontal secara sistematis. Tonggaknya adalah
artikelnya yang diterbitkan di jurnal internal Unika Atma Jaya.
Tulisan itu menarik perhatian sejumlah koleganya di Jurusan
Matematika FKIP universitas tersebut. Ia kemudian diundang untuk
berbicara dan mendiskusikan metode itu.
Metode yang
masih bersifat teoretis itu sempat terbengkalai lantaran Ivan
harus menyelesaikan studi S-2 di Institut Teknologi Bandung. Di
Bandung pula ia beruntung berjumpa Alexander Agung, 28 tahun,
sesama penggemar matematika. Bersama kawan kuliahnya itu ia
menyusun modul praktis pengajaran Metris. pada 2005, begitu
modul itu rampung, Ivan dan Alexander menggelar pelatihan bagi
para guru SD dan SMP. Sebelumnya, mereka sempat mempresentasikan
metode tersebut ke sejumlah dosen di FMIPA UI. Hasilnya? ”Metode
itu diterima sebagai sebuah metode pembelajaran baru yang
menarik untuk aritmatika,” kata Alexander yang juga dosen di
STEKPI, Jakarta selatan.
Melalui
situs http://sigmetris.com, kedua sahabat itu memasyarakatkan
temuan tersebut.
Mereka juga menggelar sejumlah pelatihan bagi guru-guru SD, SMP,
dan SMA. Sejauh ini, metode itu baru diterapkan di SD Regina
Pacis, Bogor. Beberapa sekolah lain segera menyusul setelah pada
Desember ini mereka menggelar pelatihan untuk guru-guru SD.
”Tahun depan baru direncanakan kursus bagi anak-anak,” ujar
Alexander.
Sekilas
metode ini mirip Sempoa, metode berhitung kuno yang menggunakan
alat hitung dari Cina. Sempoa termasuk populer di Indonesia
karena mengandalkan kecepatan berhitung. Menurut Alexander,
Sempoa dan Metris memiliki kesamaan, yaitu mencapai tahap
perhitungan mental aritmatika dan mengandalkan konsep asosiasi
posisi. Bedanya, dalam Metris konsep asosiasi posisi dipelajari
secara langsung dengan mengenalkan konsep asosiasi posisi dengan
notasi pagar kepada para siswanya. ”Sempoa memiliki alur sendiri
dan tak sama dengan pendidikan sekolah, sementara Metris
disesuaikan dengan program pelajaran sekolah,” ujarnya.
Perbedaan
yang lain, menurut Alex, Metris membuat anak bisa menjelaskan
langkah yang diambil dengan memakai simbol matematika seperti
yang digunakan di sekolah pada umumnya. Sedangkan Sempoa tidak.
Sempoa, menurut Ivan, membuat anak cenderung individual dan
lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses.
Siswa yang
ikut Sempoa kerap tak bisa menjelaskan proses perhitungan yang
dilakukannya kepada orang lain. Penyebabnya lantaran dia tidak
memakai simbol matematika yang diformalkan. Alat peraga berupa
manik-manik biasanya cuma bersifat sementara. ”Dalam prakteknya,
ia harus memvisualisasikannya dalam imajinasi, dan tak semua
anak bisa seperti itu,” kata Ivan.
Fakta ini
kerap menimbulkan kesalahpahaman.
Orang tua sering menyalahkan guru karena menilai
jawaban anaknya salah. Guru biasanya berkukuh karena tidak tahu
apakah jawaban itu buah pikir si anak atau hasil menyontek.
Soalnya, si anak tak bisa menjelaskan prosesnya. Maka, kata
Ivan, ”Penggunaan Metris bisa menjadi jembatan antara Sempoa dan
metode vertikal yang dikembangkan sekolah.”
Di SD Regina
Pacis, percobaan menggunakan Metris sejauh ini berhasil mengubah
citra matema-tika yang menyeramkan. Dalam percobaan, para murid
awalnya diminta menyelesaikan soal aritmatika dasar dengan
metode lama, yaitu perhitungan dari atas ke bawah. Setelah itu,
mereka diberi soal yang harus diselesaikan dengan Metris.
Ternyata para murid bisa mengerjakan soal dengan lebih cepat dan
akurat. Secara perlahan nilai mereka pun membaik. Tak
mengherankan bila mereka kini menjadi lebih antusias terhadap
matematika. ”Mereka menyukainya karena lebih cepat dan mudah,”
ujar Ephi.
Beberapa
siswa yang dulu fobia alias takut terhadap pelajaran matematika
kini berbalik. Maria Yohana salah satunya. Nona kecil ini dulu
selalu grogi bila pelajaran matematika tiba. Setiap kali ada
ulangan matematika dadakan, nilainya tak lebih dari angka 6.
Kini, semua itu
tinggal cerita. Nilai 10 telah biasa ia terima. Maria bahkan
sudah berani mengacungkan tangan, menawarkan diri untuk maju ke
depan kelas untuk mengerjakan soal yang diberikan guru.
Siswa yang
berbakat matematika kini juga semakin kreatif menyelesaikan
soal. Beberapa anak menciptakan rumus-rumus sendiri untuk
menyelesaikan soal yang diberikan guru. Begitu sukanya mereka
pada matematika sampai-sampai meminta guru mendirikan klub
matematika di sekolah. ”Saya membiarkan mereka berkreasi
menyelesaikan soal dengan cara mereka sendiri.
Asalkan logika berhitungnya benar,” ujar Ephi.
Widiarsi Agustina dan Arif
Fadillah
BACK |