|
FILOSOFI
PENDIDIKAN METODE HORISONTAL
oleh
Alexander Agung
Metode
Horisontal lahir dengan keinginan untuk memecahkan permasalahan
yang paling mendasar dari pendidikan matematika di negara ini.
Dan yang menjadi masalah terbesar dalam pendidikan Matematika
adalah membangkitkan rasa percaya diri siswa terhadap
kemampuan numerik & logika dan daya kreatifitas
siswa dalam memecahkan soal, bukan sekedar mengajari bejibum
topik matematika, yang akhirnya malah cenderung hanya memberikan
formula jalan pintas agar siswa KELIHATAN menguasai matematika
seperti yang terjadi di negara ini dan akhirnya membuat siswa
muak dengan Matematika karena mereka sebenarnya tidak mengerti
apa yang sedang mereka kerjakan.
Ketika
seorang siswa sudah mempunyai kepercayaan diri pada kemampuan
numerik & logika dan mempunyai daya kreatifitas untuk memecahkan
masalah, mereka telah siap menerima pendidikan Matematika yang
bersifat deduktif, yang biasa disebut Modern Mathematics.
Di sini mereka akan benar-benar diajarkan bagaimana BERPIKIR
LOGIS dan KONSISTEN secara mandiri. Bila mereka mampu memahami
hal yang tersulit dalam matematika yaitu untuk berpikir secara
logis dan konsisten ini, maka jalan untuk mempelajari jenis
Matematika apapun akan terbuka lebar. Jadi kalau seorang siswa
yang rajin sebenarnya tidak perlu kursus apapun juga asalkan dia
sudah bisa BERPIKIR LOGIS dan KONSISTEN karena topik2 matematika
yang harus diajarkan dalam kurikulum kita sebenarnya sudah ada
di dalam buku-buku teks yang beredar.
Dengan
pemikiran seperti ini, Metode Horisontal membuat sebuah CARA
BERHITUNG yang BARU beserta CARA PENGAJARAN yang BARU pula, dan
tentunya pengajaran siswa diawali dari Tahap Pengenalan Bilangan
sampai dengan Tahap Kreatifitas. Sebagai Cara Menghitung yang
baru, Metode Horisontal merupakan bentuk deduktif dari
Metode Sempoa, secara umum konsep yang mendasari baik Metode
Horisontal dan Metode Sempoa adalah sama yaitu konsep Asosiasi
Posisi. Di sini metode Horisontal bukan sekedar rumus atau
formula untuk mempercepat perhitungan tetapi merupakan cara
berpikir (the way of thinking). Jadi jelas bahwa Metode
Horisontal bekerja mulai pada bidang paling fundamental dari
Matematika yaitu Aritmatika Dasar. Informasi lebih lanjut dapat
dilihat pada:
www.sigmetris.com
Kemudian
sebagai Cara Pengajaran yang baru, tentunya Metode
Horisontal akan mengikuti standar kurikulum yang sudah
ditetapkan pemerintah. Selain itu Metode Horisontal perlu
membangun sebuah filosofi pendidikannya sendiri yang menjadi
landasan bagi Cara Pengajarannya. Dalam artikel ini, akan
diuraikan mengenai Filosofi Pendidikan dari Metode Horisontal,
yang mempunyai beberapa kata-kata kunci yaitu Kongkrit,
Penyelidikan dan Transformatif. Filosofi
Pendidikan ini dibangun berdasarkan tahap-tahap yang harus
dilalui seorang siswa dalam mempelajari sebuah materi pelajaran,
terutama dalam bidang Matematika, yang secara garis besar adalah
tahap Mengenal (know), tahap Memahami (understand),
dan tahap Menguasai (mastering) suatu materi pelajaran
tertentu. Karena itu sesuai dengan tahap-tahap ini, dibangun
tiga dasar filosofi pendidikan yang mendasari proses pendidikan
di dalam tahap-tahap tersebut, sebagai berikut:
1.
Pendidikan yang Kongkrit – Tahap Mengenal
Dalam tahap
pengenalan suatu ilmu pengetahuan pastilah akan timbul
pertanyaan: Bagaimana siswa bisa bertanya dan tertarik mengenai
suatu topik jika mereka belum tahu bidang tersebut sama sekali?.
Pastilah di sini harus ada guru
yang memperkenalkan topik tersebut dan memotivasi siswa agak
tertarik dengan bidang tersebut. Jadi sebelum menginjak pada
proses Penyelidikan (tahap Pemahaman), siswa perlu diperkenalkan
dengan ilmu pengetahuan yang bersifat kongkrit (nyata) bagi
mereka. Pendidikan seperti ini dinamakan sebagai Pendidikan yang
Kongkrit.
Pendidikan yang Kongkrit
adalah jenis pendidikan yang menekankan segala materi yang
diajarkan ke siswa sebaiknya terhubung dengan realitas kehidupan
sehari-hari dan menggunakan konteks nyata sebagai sumber
inspirasi untuk memperkenalkan siswa pada suatu pengetahuan
tertentu. Singkatnya di sini siswa akan dapat mencerap bahwa
materi yang diajarkan adalah hal yang nyata bagi dirinya, bukan
sesuatu yang terlepas dari kehidupannya sehari-hari. Hal ini
tentunya tidak perlu berupa materi yang berbentuk benda nyata,
bisa saja topik tersebut berwujud suatu soal cerita atau sebuah
puzzle. Melalui materi yang bersifat kongnrit seperti ini,
kemudian mulai dibangun materi-materi yang bersifat lebih
abstrak sebagai sebuah kontinuitas yang wajar darinya.
Pendidikan
yang Kongkrit mempunyai beberapa karakteristik dasar, yaitu:
-
Menggunakan konteks kehidupan nyata sebagai awal proses
pembelajaran
-
Menggunakan model sebagai jembatan antara dunia nyata dan
ilmu pengetahuan. Di sini model berperan untuk
menyederhanakan dunia nyata sehingga bisa dilihat
karakteristik-karakteristik yang penting sehingga dapat
dipahami prinsip dasar ilmunya.
-
Model yang dibangun tersebut harus dipahami benar oleh siswa
sehingga harus menggunakan istilah, simbol, diagram dan
gambar yang mudah ditangkap atau yang sudah biasa digunakan
oleh siswa
-
Menggunakan proses pengajaran yang interaktif sehingga siswa
dapat merasakan benar-benar bahwa konteks yang dibahas
relevan dalam kehidupannya sehari-hari.
-
Tidak menolak untuk membahas suatu subjek secara lintas ilmu
bila hal ini memang dapat membuat materi yang diajarkan
semakin Kongkrit dalam sudut pandang siswa.
Bila
karakteristik ini dipenuhi dalam suatu proses pengajaran, maka
siswa akan mencerap suatu bidang bukan sebagai hal yang abstrak
tetapi sebagai hal yang nyata dan berguna bagi dirinya. Dan
tentunya karena ditekankan pula penggunaan istilah, simbol,
diagram dan gambar yang mudah dipahami siswa, hal ini akan
membuat mereka merasa nyaman dan tentunya mereka juga otomatis
akan merasa tertarik dengan bidang tertarik karena merasa mudah
memahaminya. Bila hal ini telah terjadi maka Pendidikan dengan
cara Penyelidikan telah siap untuk dilakukan oleh siswa, karena
prasyaratnya dari sebuah proses penyelidikan adalah antusiasme
dan rasa ingin tahu.
Selanjutnya
dalam Pendidikan yang Kongkrit ini, peran seorang guru adalah
sebagai berikut:
-
Sebagai seorang pengajar, yaitu ia harus memperkenalkan
suatu topik di depan kelas dengan mulai pada hal-hal yang
kongkrit di sekitar kehidupan siswanya.
-
Kemudian dalam interaksinya dengan siswa, guru harus
memberikan sebuah tantangan (challenge) dan sekaligus
bantuan (clue) yang dibutuhkan siswa untuk memahami
topik yang diajarkan. Bantuan tersebut dapat berupa sebuah
diagram, gambar atau penjelasan yang dibutuhkan untuk
memecahkan tantangan yang diberikan.
-
Perlu pula ditekankan dalam pendidikan yang kongkrit ini,
guru juga berperan sebagai motivator, hal ini dapat dengan
bermacam-macam cara misalnya dengan menceritakan tokoh yang
berperan dalam bidang tersebut, dengan mendemonstrasikan
kegunaan ilmu tersebut di depan kelas dan sebagainya. Selain
itu mereka harus selalu memandang secara positif setiap
Keberhasilan dari setiap siswa yang diajarnya dalam
memecahkan soal dan berusaha membantu siswanya dalam
mengkonstruksi konsep diri yang positif.
-
Terakhir guru perlu terus-menerus memantau keaktifan
siswanya di dalam kelas ketika berusaha memahami topik yang
diajarkan dengan mengamati caranya bertanya atau menjawab
tantangan (challenge) yang diberikan.
2.
Pendidikan dengan Penyelidikan – Tahap Memahami
Dalam model
Pendidikan yang menekankan proses Penyelidikan, siswa didorong
untuk bertanya tentang suatu topik tertentu yang menarik bagi
dirinya. Tentunya topik ini harus diperkenalkan oleh seorang
guru yang berperan sebagai fasilitator di sini.
Pertanyaan-pertanyaan siswa ini tidak perlu merupakan hal yang
masuk akal atau mudah dijawab, dan guru tidak bertugas untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa, tetapi bertugas untuk
memfokuskan pertanyaan-pertanyaan ini sehingga siswa dapat
memberikan alternatif jawabannya sendiri.
Pendidikan
dengan cara menyelidiki dimotivasi oleh fakta bahwa seorang
Pembelajar yang baik ternyata mempunyai perhatian terhadap
aktifitas bertanya dan menyelesaikan pertanyaan itu sendiri,
bukan hanya tertarik pada hasil akhir pengetahuan saja.
Aktifitas penyelidikan ini sebaiknya dilakukan secara sosial,
yaitu bersama-sama dengan guru dan juga teman-teman sebayanya.
Di sini
terdapat daftar dari seorang Pembelajar yang baik, yaitu:
-
Percaya diri terhadap kemampuan belajar mereka
-
Kesenangan dalam memecahkan suatu masalah
-
Tajam dalam melihat hubungan-hubungan yang relevan
-
Bersandar pada pendapatnya sendiri bukan pada pendapat orang
banyak.
-
Tidak takut untuk salah
-
Tidak terburu-buru untuk menjawab
-
Mempunyai sudut pandang yang fleksibel
-
Menghargai Fakta diatas sebuah Opini dan dapat membedakan
dengan jelas antara sebuah Fakta dan Opini.
-
Merasa nyaman dalam Ketidaktahuan, sehingga tidak merasa
perlu untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul secepat
mungkin. Dan tidak puas dengan suatu jawaban yang sangat
disederhanakan.
Untuk
melakukan model pendidikan dengan cara Penyelidikan ini
diperlukan peran baru bagi seorang guru yang berbeda dari model
pendidikan tradisional. Di sini, guru lebih berperan sebagai
fasilitator dan penuntun dibandingkan sebagai seorang pengajar
yang memberikan kuliah saja. Ada beberapa hal yang harus
dipahami seorang guru dalam metode pengajaran ini:
-
Mereka harus menghindari siswa bahwa mereka harus tahu
sesuatu hal agar siswa merasa nyaman jika mempunyai
pertanyaan yang belum bisa terjawab olehnya.
-
Mereka berbicara dengan siswa dengan cara bertanya kembali
yang berfungsi untuk memfokuskan setiap pertanyaan siswa.
-
Mereka tidak dapat menerima jawaban siswa yang
disederhanakan saja
-
Mereka harus mendorong siswa untuk bertukar pikiran dengan
siswa-siswa yang lain dan mendidik siswa untuk tidak
menghakimi apa yang telah dikatakan temannya.
-
Mereka harus memperkenalkan suatu masalah tertentu agar
menarik minat siswanya.
-
Mereka mengukur keberhasilan siswa berdasarkan sifat-sifat
seorang Pembelajar yang baik, yang ditetapkan sebagai tujuan
Pembelajaran ini.
3.
Pendidikan Transformatif – Tahap Menguasai
Setelah kita
membahas tentang Pendidikan dengan cara Penyelidikan,
selanjutnya akan dibahas mengenai Pendidikan Transformatif
sebagai akibat wajarnya. Dengan menerapkan cara Penyelidikan
dalam kehidupannya sehari-hari, seorang siswa pastilah akan
menggali banyak informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
Pada suatu tahap tertentu, pastilah ia akan mempertanyakan
kembali informasi-informasi yang didapat karena biasanya
informasi2 tersebut tidaklah selaras satu dengan yang lainnya
atau mungkin pula karena ia tidak dapat menjawab suatu masalah
dengan informasi yang telah dimilikinya. Bila hal ini telah
terjadi, maka sangatlah dibutuhkan apa yang dinamakan Pendidikan
Transformatif. Jadi proses transformatif diawali dengan
Kegagalan siswa untuk memahami suatu bidang ilmu pengetahuan
yang bersifat individual, yang berakibat pada kebingungan
terhadap konsistensi pemikirannya atau ketidakmampuannya dalam
memesahkan suatu masalah tertentu.
Untuk
memudahkan pembahasan, maka proses kognitif manusia secara
sederhana dibagi menjadi dua macam:
-
Berpikir tingkat Pertama meliputi - menghitung, mengingat,
membaca dan memahami.
-
Meta-kognisi, yaitu – proses memantau perkembangan dan hasil
dari dari Berpikir tingkat Pertama.
Dalam Pendidikan dengan cara
penyelidikan, berpikir-tahap-pertama digunakan secara intensif
untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri
seorang siswa. Tetapi selain tahap pemikiran ini, perlu juga
disadari bahwa siswa terus memantau setiap informasi2 baru yang
mereka dapat dan berusaha membandingkan dengan informasi2 yang
telah didapat sebelumnya, proses ini dinamakan dengan meta-kognisi.
Dilain pihak seorang siswa pastilah sampai suatu saat akan
terbentur dengan suatu pertanyaan yang tidak dapat dijawab
dengan segala informasi yang telah dipunyai.
Ada satu kata kunci yang
perlu dipahami dalam Pendidikan transformatif pada tahap ini,
yaitu Perubahan. Jika hal-hal di atas telah dialami oleh
seorang siswa, maka disini saatnya siswa tersebut harus berubah.
Apanya yang berubah? Tentu
yang berubah adalah sudut pandangnya dalam memandang hal-hal
yang telah diketahuinya tersebut. Ia harus mulai lagi memeriksa
informasi2 yang telah mereka dapat satu persatu, dan memisahkan
mana yang sekedar opini dan mana yang benar-benar berupa fakta.
Setelah proses menyaring tersebut maka akan didapatkan semua
hal-hal yang relevan, dan mulailah ia mempertanyakan Landasan
sudut pandangnya terhadap informasi yang relevan tersebut,
terutama dikaitkan dengan Asumsi dasar yang telah
dipegang mereka.
Dalam
kehidupan sehari-hari, Asumsi dasar ini adalah berupa suatu
Makna Kehidupan dan merupakan suatu hal yang penting dalam
kehidupan manusia, karena mau tidak mau hampir semua sudut
pandang dan tingkah lakunya bermuara pada makna kehidupan
tersebut. Sehingga dalam kehidupan nyata, dengan menyesuaikan
makna kehidupan terhadap informasi2 yang relevan tersebut,
seorang siswa akan memandang segala sesuatu secara berbeda.
Bila kita
mendaftar apa sebenarnya yang terjadi pada seorang siswa dalam
proses transformatif ini terutama dalam bidang Akademik, maka
didapat sebagai berikut:
-
Memahami kerangka berpikir yang telah digunakan selama ini
-
Mempelajari kerangka berpikir alternatif yang lain
-
Mentranformasi sudut pandang yang digunakan.agar dapat
mengakomodasi kerangka berpikir yang lain tersebut (yang
dianggap relevan tentunya)
-
Dan akibatnya akan Mentranformasi segala kebiasaan
berpikirnya
Untuk
melakukan hal ini seorang siswa perlu dibantu oleh guru (atau
orang tuanya) yaitu dalam melalui proses transformatif yang
sangat kritis ini. Tentunya tidak dengan memaksakan kerangka
berpikir mereka sendiri kepada siswa tersebut, tetapi membiarkan
siswa membangun kerangka berpikirnya sendiri.
Proses
transformatif ini bisa diajarkan dalam bidang akademis dan di
sini tugas seorang guru adalah sebagai berikut:
-
Memberikan suatu masalah atau menunjukkan suatu kejadian
tertentu yang dapat menyadarkan siswa akan Keterbatasan
pengetahuan dan pendekatan mereka.
-
Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi dan
mendeskripsikan Asumsi-asumsi dasar yang mendasari
pengetahuan dan pendekatan yang mereka gunakan.
-
Mendorong siswa untuk menelaah dari mana Asumsi-asumsi ini
berasal dan bagaimana asumsi tersebut membatasi pemahaman
mereka
-
Mendiskusikan apa yang telah mereka telaah kepada guru dan
siswa yang lain.
-
Memberikan kesempatan kepada mereka untuk menguji perspektif
mereka yang telah diperbaharui.
Bila siswa telah biasa
dengan proses Transformatif dalam bidang akademisnya, maka
kemungkinan besar mereka juga akan dapat menerapkan hal ini
dalam kehidupan sehari-harinya terutama dalam melalui
perubahan-perubahan dalam tahap kehidupannya dengan sukses.
BACK |