|
Tahap
Pengenalan Bilangan: Masa Kritis bagi Anak
oleh
Alexander Agung
Dasar dari
proses belajar awal matematika dan angka-angka hendaknya telah
dibangun sejak anak-anak berumur tiga tahun. Tentunya di sini
bukan kemudian si anak harus dijejali dengan materi menghitung
atau dipaksakan untuk mencongak. Tetapi lebih kepada pengenalan
Simbol Angka dan Konsep Asosiasi Posisi secara dini dan tentunya
dengan cara yang kongkrit serta menyenangkan bagi anak itu
sendiri. Manfaatkan segala sesuatu yang ada dalam lingkungan si
anak. Menghitung jumlah mainannya, jumlah tangga dalam rumahnya
atau menghitung pepohonan yang ada di depan rumah adalah contoh
dari kesempatan yang tidak terbatas bagi orang tua dan guru
untuk merangsang pengertian anak akan angka-angka. Jika
angka-angka dipelajari sebagai rutinitas sehari-hari, maka
anak-anak akan mulai dapat menghitung sendiri benda-benda
disekitarnya ketika dia sedang bermain.
Yang perlu
ditekankan pada tahap pengenalan ini, janganlah mengajarkan
sesuatu yang bersifat abstrak seperti simbol angka, karena hal
ini sukar untuk dipahami oleh anak-anak tersebut. Tetapi
mulailah dari hal-hal yang bersifat kongkrit dan menggunakan
kata-kata alih-alih menggunakan simbol Angka untuk mengenalkan
konsep bilangan tersebut. Gunakan segala sesuatu yang disenangi
anak-anak sebagai kunci dalam proses mengajarnya. Baru kemudian
setelah anak secara intuitif memahami apa yang sedang
dikerjakannya, mulai diperkenalkan dengan simbol Angka satu per
satu. Sebenarnya angka-angka bertebaran disekitar kita: waktu
uang, ukuran, umur, tanggal, irisan kue dan jumlah buah-buahan.
Orang tua dapat selalu mengingatkan waktu kapan si anak dapat
menonton acara favoritnya, sambil menunjukkan angka-angka yang
ada pada jam. Juga mulai ajarkan arti Ulang Tahun yang
sebenarnya sehingga ketika mulai mendekati hari-hari ulang tahun
yang sangat diharapkannya, anak akan diam-diam mulai
menghitungnya.
Selanjutnya
sekitar umur lima tahun, minat anak terhadap angka akan tumbuh
sangat besar secara alamiah bila sejak kecil telah diperkenalkan
pada konsep angka secara kongkrit. Karena itu sebenarnya tidak
perlulah orang tua untuk memaksakan anak untuk belajar berhitung
sebelum mereka sendiri merasa berminat, tugas orang tua dan guru
yang terutama adalah merangsang minat anak terhadap bilangan
sejak dini (sekitar umur tiga tahun). Sekarang pada umur lima
tahun saatnya memperjelas dan menyusun konsep-konsep Angka dari
fakta-fakta yang telah anak pahami secara intuitif. Pada
awalnya, secara intelektual anak tidak mengerti konsep-konsep
Angka, namun ia sudah mempunyai pengertian tersebut secara
intuitif dan perlahan-lahan perlu dituntun menuju suatu
pemahaman intelektual akan kuantitas secara simbolik. Maka
sekaranglah saatnya memperkenalkan proses belajar formal kepada
anak, dimulai dengan pengenalan simbol Angka dan
Konsep Asosiasi Posisi yang merupakan dasar Matematika.
Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan operasi-operasi dasar
seperti penjumlahan dan pengurangan.
Melalui
latihan-latihan sensoris sejak sekitar umur tiga tahun, proses
pengenalan angka sebenarnya secara perlahan-lahan telah
terbentuk dalam pikiran anak. Yang menjadi dasar dari latihan
sensoris ini adalah gagasan tentang Kuantitas dan
Gambaran Identitas (Persamaan dan Perbedaan). Sebagai contoh
adalah, seorang anak melihat sebuah batang cuisenaire
(Cuisenaire rods) yang berwarna-warni dan panjang batang
tersebut disesuaikan sehingga dapat merepresentasikan
angka-angka yang berurutan. Pengenalan terhadap batang
cuisenaire ini merupakan fondasi bagi proses pembelajaran angka
secara visual dang kongkrit dan kemudian pembelajaran ini harus
diulang lagi dalam angka-angka yang aktual di saat anak berumur
sekitar lima tahun.
Sistem
Desimal adalah
merupakan dasar sistem angka kita. Oleh karena itu, pemahaman
angka-angka yang teliti dari satu sampai sepuluh – angka
tertulis sekaligus kuantitas yang dilambangkan oleh angka
tersebut – yang sangat diperlukan jika anak ingin memahami
sepenuhnya soal-soal matematika yang akan dijumpai di masa
mendatang. Sistem Desimal hanya menggunakan sepuluh simbol angka
(0 s.d 9) tersebut, yang kemudian digunakan untuk
merepresentasikan semua bilangan dengan menggunakan asosiasi
posisi sepuluh angka tersebut. Oleh karena itu sejak awal perlu
pula ditekankan pengenalan terhadap Konsep Asosiasi Posisi ini
pada siswa, terutama sebagai pengenalan simbol Notasi Pagar.
Dengan
menggunakan materi-materi yang kongkrit dan dalam bentuk
permainan untuk mempelajari konsep-konsep matematika dasar, anak
diharapkan tidak akan menemui kesulitan untuk memahami konsep
dan ketrampilan matematika dasar. Di sini, anak diharapkan mampu
memindahkan benda-benda yang sedang dihitung untuk mendapatkan
kuantitas-kuantitas yang sebenarnya. Kepuasan dalam penemuan
inilah yang mengarahkan antusiasme anak pada angka-angka,
terutama bila ia dapat mendemonstrasikan operasi matematika
dasar kepada guru atau teman-temannya, daripada dikuliahi
fakta-fakta yang kosong dan tanpa makna bagi mereka. Jadi dalam
tahap pengenalan bilangan ini, pendidikan yang kongkrit
diimplementasikan dengan cara anak secara fisik memegang
kuantitas-kuantitas yang mewakili simbol-simbol angka tertulis.
Dan anak tersebut memadukan materi, hitungan, pemisahan dan
membandingakan dengan visual, audio dan juga sentuhan untuk
memperkuat gagasan-gagasan kuantitatif secara nyata, bukannya
hanya bersifat abstrak bagi si anak tersebut. Perlu diingat pula
bahwa cara pengajaran ini harus membiarkan anak mencapai
pemahamannya sendiri sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya
sendiri, peran orang tua dan guru adalah untuk memberikan
lingkungan yang kondusif bagi perkembangan intelektual mereka.
Hal lain
yang perlu diperhatikan dalam mengajar anak kecil adalah
perlunya Pengulangan materi dengan topik yang sama tetapi
dengan bermacam-macam objek yang berbeda yang dapat digunakan
dalam proses pengajarannya. Dengan mengajarkan secara kongkrit
dengan menggunakan objek yang berbeda-beda, konsep yang abstrak
sehingga menjadi kurang jelas bagi anak menjadi gamblang karena
anak tidak hanya melihat konsep tersebut pada satu objek saja
tetapi menemukan pula konsep tersebut pada objek-objek yang
lain. Melalui pengulangan ini, konsep abstrak ini dimengerti
bukan hanya sekedar dihafalkan saja. Dan begitu konsep abstrak
benar-benar dipahami anak, ia akan dapat menerapkan pada semua
objek yang berhubungan dengan konsep tersebut.
Akhirnya ada
tiga teknik mengajar dasar yang perlu digunakan dalam mendidik
anak, yaitu :
1.
Pengenalan Identitas, di sini orang tua atau guru
menunjukkan nama benda sekaligus mengucapkan, misalnya sambil
memegang kelereng, mereka mengucapkan ”Ini adalah kelereng”.
2.
Penegasan, di sini orang tua atau guru ingin meyakinkan
kalau anak memahami akan identitas suatu benda dengan cara
memberikan sebuah perintah, misalkan ”Berikan saya dua buah
kelereng”.
3.
Pembedaan, di sini orang tua dan guru ingin mengetahui
apakan anak dapat membedakan suatu benda dengan benda yang lain,
misalnya dengan menunjuk suatu kelereng, mereka mengatakan,
”Benda apakah ini?”. Bila anak bisa menjawab kemudian bisa
diteruskan dengan pertanyaan, ”Berapakah jumlahnya?”
Ketiga
teknik pengajaran ini perlu diulang-ulang untuk setiap topik
yang diajarkan kepada siswa dengan cara mengganti objek-objek
yang digunakan sebagai alat bantu mengajar. Teknik ini juga
digunakan untuk memastikan apakah anak memahami apa yang sedang
mereka kerjakan. Selanjutnya dapat dilanjutkan ke topik yang
lebih sulit bila anak telah benar-benar menguasainya, tetapi hal
ini harus disesuaikan dengan kecepatan anak tersebut menangkap
konsep yang diajarkan.
BACK |