T A M U K I T A
MEDIA INDONESIA ¨
MINGGU, 28 JANUARI 2007
O L E H
P R I H AN D H I N I
Berhitung
ala Ivan
SUASANA kampus Universitas Katolik (unika) Atma Jaya Jakarta,
Selasa pagi (16/1), terlihat sangat ramai. Para mahasiswa yang
tengah menjalani semester pendek tampak asyik mengobrol di
koridor gedung. “Oh, Pak Ivan ada di laboratorium fisika.
Masuk saja ke gedung K1, lalu naik sampai lantai 3,” ujar
seorang mahasiswa ketika Media Indonesia menyebut nama
Stephanus Ivan Goenawan.
Menaiki gedung yang terletak di belakang kompleks kampus itu,
suasana berubah menjadi lebih lengang. Bahkan kondisi dalam
laboratorium fisika justru sangat sepi. Hanya tampak seorang
pria berperawakan kecil sibuk mengetik di hadapan sebuah
komputer. Namun,, ia langsung menyapa hangat Media Indonesia
ketika datang menyambanginya.
Dialah Stephanus Ivan Goenawan. Mungkin tak ada yang istimewa
pada sosoknya, tetapi siapa yang sangka kalau pria itu menemukan
sebuah metode perhitungan baru dalam matematika, yaitu metode
horisontal atau metris. Kedengarannya memang simpel, tetapi
ternyata perjuangan Ivan, begitu ia akrab disapa, tidak mudah.
Rasa
ingin tahu yang sangat besar serta rasa tidak puas atas apa yang
didapatnya, membuat Ivan kerap mencari jalan sendiri dalam
menyelesaikan soal-soal aritmatika sejak di bangku SMP Bruderan,
Purworejo, Jawa Tengah. “Saya selalu berpikir, ada nggak
ya cara yang lebih cepat?” ungkapnya.
Di masa beranjak remaja
itulah Ivan meyakini konsep yang ditemukannya dapat berkembang
menjadi sebuah metode yang paten. Namun jalan itu ternyata
sangat panjang. Butuh waktu sekitar 15 tahun untuk mencapai
titik kesuksesan. Hanya kesabaran dan sikap fokuslah yang
membuat Ivan tetap berada pada jalur untuk membangun konsep
metris.
Dosen fisika ini menjelaskan, metris merupakan metode menghitung
secara mendatar. Jika selama ini siswa menghitung perkalian
menggunakan cara tradisional, yaitu dengan mengalikan dari atas
ke bawah, lalu menjumlahkannya, metris dilakukan dengan
mengurutkan secara mendatar dari kiri ke kanan.
Bila
dibandingkan dengan sempoa, metris memang lebih ilmiah meskipun
sama-sama menggunakan perhitungan mental aritmatika dan
mengandalkan konsep asosiasi posisi. Perbedaannya, metris
membuat anak bisa menjelaskan langkah yang diambil karena
menggunakan cara berpikir matematika seperti yang digunakan di
sekolah pada umumnya.
Dalam Metris, konsep asosiasi posisi dipelajari secara langsung
dengan mengenalkan konsep asosiasi posisi dengan notasi pagar.
“Sementara sempoa fondasinya bukan simbol metematika yang
diformalkan,” jelas pria yang masih lajang itu.
Meskipun sudah membangun asumsi metris sejak awal tahun 90-an,
Ivan baru memublikasikan metris pada jurnal Unika Atma Jaya di
Tahun 2000. Tulisan itu menarik perhatian sejumlah orang yang
tertarik pada bidang matematika. Hal itu bukan berarti jalannya
semakin mulus. Ivan masih terus berjuang agar metris dapat
diketahui secara luas dan dipelajari oleh semua orang.
Manusia adalah
makluk yang tidak pernah puas.
Dan, karena sifat
itulah, Stephanus Ivan Goenawan menemukan
Metode baru dalam
berhitung.
Ketika menyelesaikan studi S-2 di Institut Teknologi Bandung, ia
berjumpa dengan Alexander Agung, 28, yang dianggapnya kompeten
dalam bidang metematika. Bersama Alex, ia menyusun modul metris
sehingga metodenya itu lebih terorganisasi. Semasa penyusunan
modul, Ivan rajin memberikan pelatihan bagi guru-guru. Ivan
ingin mereka khususnya yang berada di daerah mendapat informasi
pengetahuan baru untuk diajarkan kepada siswanya. “Kalau terus
mengajar dengan cara-cara lama, bagaimana siswa-siswa di daerah
ini bisa maja?” kritiknya.
Ivan
pun sempat mengujikan metode itu pada para siswa di sebuah SD di
Bogor. Hasilnya, seorang anak berhasil menyelesaikan sebuah
soal matematika lebih cepat dengan cara metris ketika
disandingkan dengan seorang anak lain yang merupakan pemenang
kompetisi matematika terbuka tingkat SD se-Jabotabek.
Pria
yang humoris itu menepis anggapan bahwa untuk belajar metris
harus mengeluarkan sejumlah uang. Buktinya, sejak pertengahan
2005 siapa pun dapat mengakses situs
www.sigmetris.com untuk mempelajari metode itu. Selain
itu sebuah forum diskusi dalam sebuah mailing list (milis)
melengkapi niat tulus Ivan dalam menyebarkan metris. “Semua
orang bisa bertanya dan memberi masuka di sini. Jika ada
pertanyaan pun tidak harus saya yang menjawab, para anggota
milis boleh urun saran dan jawaban,” kata Ivan merendah.
Setelah mematenkan metris pada 2005, Ivan berencana membuat buku
agar metode itu bisa lebih mudah dipelajari langsung oleh siswa
sekolah dasar. Masih ingin menemukan sesuatu yang baru lagi?”
Mungkin bukan sesuatu yang baru tetapi lebih kepada aplikasi
metris, contohnya metris bisa dimanfaatkan dalam program
komputer.”
Tampaknya, hasrat keingintahuan Ivan belum jua terpuaskan. Ia
pun tak akan pernah berhenti mencari jawaban.
(M-2)
T A M U K I T A
MEDIA INDONESIA
¨ MINGGU, 28 JANUARI
2007
O L E H P R I H AN D H I
N I
‘WHO
Am I ?’
Ada sebuah pertanyaan yang cukup mengusik benak Ivan. Who am
I? Itulah pertanyaan singkat yang mampu membuatnya berpikir
keras. Seorang temannya menyatakan untuk apa ia repot-repot
mencari jawaban atas pertanyaan itu, namun bagi Ivan, pertanyaan
itu mempuanyai arti dan suatu makna sehingga ia harus
mengobservasi dan mengeksplorasinya.
Lalu, siapa Stephanus Ivan Goenawan sesungguhnya?
Ia menjawab, proses pencarian jati diri membuatnya akan selalu
berubah. Menurutnya pengalamanlah yang akan mendorong manusia
untuk bergerak maju. “Pribadi seseorang sebenarnya dibentuk
oleh pengalaman yang kita peroleh. Pengalam itu bisa berefek
positif, bisa juga negatif, tergantung bagaimana kita
menyerapnya. Tidak ada di dunia ini yang tetap sehingga saya
tidak menjamin lima tahun ke depan saya akan tetap seperti
sekarang ini.” Paparnya bijak.
Ivan melanjutkan, sering kali perubahan itu tidak
disadari sehingga manusia mudah terhanyut oleh kehendak orang
lain. Akibatnya, kita tidak bisa mengontrol diri sendiri
menjadi sesuatu yang lebih baik. Karena pemikiran itulah, tak
mengherankan jika sejak remaja ia sudah memiliki visi hidup
sendiri.
Pria berusia 32 tahun ini mengaku, saat masih
kanak-kanak prestasinya biasa-biasa saja. Menurutnya, masih
banyak orang yang lebih pintar dari dirinya. Karena tidak fokus,
mereka tidak menghasilkan sesuatu yang monumental.
Pernah suatu kali ia bertemu dengan seorang profesor
matematika di UGM yang dianggapnya jago dalam bidang itu.
Tetapi si profesor justru berkata, “Meskipun orang lain
menganggap saya pintar matematika, tapi mungkin saya hanya
menguasai paling tidak 5% saja. Matematika itu sangat luas.”
Itu sebabnya ia menerjuni bidang matematika yang
paling dasar yaitu aritmatika, yang diuliknya dalam metris.
Meskipun menyukai matematika, ia justru memilih fisika saat
memasuki bangku kuliah. Tetapi hal itu bukan berarti ia tidak
fokus dengan visinya. Ia beralasan, matematika bisa dipelajari
secara autodidak. Baginya, fisika dan matematika bukanlah
sesuatu yang terpisah. “Matematika itu kan ibarat alat. Saya
tidak ingin peralatan itu disimpan di gudang, tetapi digunakan
untuk mengeksplorasi hal lain, misalnya fisika. Toh dua-duanya
bermain dengan angka juga,” paparnya.
Namun ia mengakui kalau sesungguhnya tetap ada rasa
ingin tahu yang begitu dalam pada ilmu fisika. “Ujung-ujungnya
supaya batin ini tenang, ha-ha-ha,” tambahnya sambil tertawa.
Seraya bercanda, Ivan mengatakan rasa ingin tahunya memang sudah
tertanan dalam gennya. Sebagai seseorang yang bergelut di dunia
pendidikan, Ivan selalu ingin memberi sesuatu yang bermanfaat
bagi orang lain. Sesuai dengan prinsip hidupnya yang selalu
ingin melayani dalam bidang ilmu pengetahuan. (PD/M-2)
BACK |