|
Peningkatan Mutu Pembelajaran Matematika di SD
oleh: Iwan Pranoto
Jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha Sepuluh
Bandung 40132
Maret 1999
Abstrak
=======
Kita tentunya harus akui bersama bahwa kurikulum sekolah kita
terutama matematika di SD tidaklah ideal. Permasalahan utamanya
bukanlah miskinnya materi pada kurikulum tersebut, tetapi justru
sebaliknya. Kurikulum itu sangat gemuk.
Banyak pakar mengusulkan untuk menghapuskan materi pada
kurikulum tersebut. Ini tentunya tidak secara otomatis akan
menyelesaikan masalah. Mungkin malahan melahirkan permasalahan
baru yang lebih runyam.
Pada tulisan ini, kami mengajukan suatu langkah strategis selain
dengan pemangkasan kurikulum. Langkah ini dapat dimanfaatkan
oleh para anak didik, guru, dan orang tua agar anak-anak kita
mampu bernalar secara aktif, kreatif, dan kritis melalui proses
pembelajaran matematika yang bermutu.
1 Permasalahan dalam Pembelajaran Matematika
============================================
Pada dasarnya kita ketahui bersama bahwa matematika senantiasa
ada pada semua kurikulum sekolah. Entah itu tingkat Taman
Kanak-kanak sampai tingkat Perguruan Tinggi, matematika
senantiasa termasuk salah satu materi yang tercakup dalam
kurikulum. Perlukah anak-anak kita di SD belajar matematika?
Untuk apakah kita belajar matematika?
Belajar matematika adalah sesuatu yang cukup. Ini merupakan
suatu syarat kecukupan. Mengapa? Karena -ini untuk menjawab
pertanyaan kedua- dengan belajar matematika, kita akan belajar
bernalar secara kritis, kreatif dan aktif. Pendapat ini didukung
pendapat dari Dudley di [1]. Sekaligus pada saat yang sama, kita
akan mengamati keberdayaan matematika (power of mathematics) dan
tentunya menumbuhkembangkan kemampuan learning to learn. Jadi,
kecuali untuk mendapatkan daya matematika itu sendiri sebagai
alat penyelesai permasalahan dalam kehidupan nyata, kita belajar
matematika sebagai suatu wahana yang memfasilitasi kemampuan
bernalar, berkomunikasi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam
bermatematika. Tentunya kemampuan bernalar yang dipunyai anak
didik melalui proses belajar matematika itu akan meningkatkan
pula kesiapannya untuk menjadi lifetime learner atau pemelajar
sepanjang hayat.
Pendapat bahwa seseorang yang belajar matematika akan menjadi
pemelajar yang lebih baik bukanlah mitos. Pendapat ini didukung
dengan fakta yang dikemukakan di [3] bahwa sebanyak 83 persen
siswa yang belajar Geometri dan Aljabar di AS melanjutkan ke
college. Ini jauh lebih tinggi
dibanding siswa yang tidak belajar hal itu, yaitu hanya 36
persen yang melanjutkan ke college. Perbedaan di atas lebih
mencengangkan lagi pada siswa dari keluarga berpenghasilan
rendah. Ternyata, perbandingannya 71 persen lawan 27 persen.
Sekarang, kurikulum matematika yang kita gunakan saat ini padat
dengan materi. Guru terbebani dengan target untuk menyelesaikan
beban materi yang sangat besar. Jika ada dua guru bertemu, yang
akan menjadi -bahan pembicaraan adalah sampai di mana pembahasan
materi di kelasnya.
Bukan mendiskusikan bagaimana menyampaikan suatu materi dengan
menarik. Yang terakhir ini sudah tidak sempat lagi
diperbincangkan. Dan, tidak relevan dengan keadaan seperti
sekarang.
Proses pembelajaran matematika yang disediakan di sekolah
akibatnya tidak berjalan secara optimal. Mungkin jadi lebih
tepatnya, yang ada hanyalah proses pengajaran matematika, bukan
pembelajaran. Dalam pelajaran matematika yang seharusnya kita
belajar bernalar, telah diubah menjadi pelajaran menghafal.
Sangat aneh jika pelajaran matematika diberikan dengan guru yang
ceramah di depan kelas atau "berbicara" dengan papan tulisnya,
sedangkan muridnya hanya mencatat. Lalu, murid itu akan
menghafal semua yang dicatatnya. Dan, pada saat ulangan nanti,
murid itu cukup "memuntahkan" kembali info yang dicatatnya atau
ditelannya. Ini semua terjadi hampir di setiap kelas. Ini jelas
mengasingkan aktivitas bermatematika yang benar dengan pelajaran
matematika.
Permasalahan lainnya yang perlu disinggung di sini adalah
persepsi yang berkembang pada diri anak didik bahwa matematika
adalah sesuatu ilmu pengetahuan yang tidak ada manfaatnya. Ini
tentunya sangat menyedihkan. Matematika memang suatu ilmu yang
abstrak. Mungkin pula sulit dicerna. Ini wajar. Namun, kita
sebagai guru haruslah senantiasa berupaya menunjukkan relevansi
matematika dalam kehidupan nyata. Ini suatu keharusan.
Dengan mekarnya persepsi tentang tidak relevannya atau tak
bermanfaatnya matematika, motivasi belajar matematika anak didik
menjadi turun. Atau malahan menjadi hilang. Akibatnya,
banyak dari anak-anak kita itu menghafal matematika. Ini sangat
mengasingkan kebermatematikaan yang benar dari pelajaran
matematika di SD.
Tidak cukup kita sebagai guru mengatakan bahwa materi dalam
matematika itu akan dimanfaatkan kelak. Atau, lebih parah lagi,
kita janganlah menyatakan bahwa materi yang kita pelajari ini
memang saat sekarang belum ada gunanya, namun akan dimanfaatkan
di masa mendatang. Jauh lebih baik jika kita berupaya
menunjukkan keberdayaan matematika dengan mengaitkannya pada
permasalahan sederhana sehari-hari kita. Memang ini artinya
mensyaratkan guru harus belajar. Namun, bukankah memang seorang
guru haruslah seorang pemelajar sepanjang hayat? Malah, kita
sebagai orang tua pun harus senantiasa belajar. Karena, memang
hanya dengan belajar lah kita dapat survive. Selain itu, seperti
kata Sekretaris Pendidikan Amerika Serikat, Riley, di [3], bahwa
--almost every job today increasingly demands a combination of
theoretical knowledge and skills that require learning
throughout
a lifetime.--
2 Strategi
==========
Dari paragraf-paragraf di atas, kita cermati bahwa:
1. belajar matematika untuk belajar bernalar;
2. belajar matematika untuk menghayati keberdayaan matematika;
3. kurikulum yang sekarang tidak menunjang dua butir di atas;
4. persepsi yang salah tentang matematika.
Sekarang, tentu saja kita dapat mengikis kurikulum yang ada
sehingga tinggal, mungkin, sepertiganya. Ini mudah. Namun,
apakah kita dapat membayangkan apa yang akan diajarkan oleh
para guru kita? Apakah guru kita sudah siap mengisi waktu yang
lowong tersebut? Kalau para guru kita belum siap untuk berkreasi
untuk merekacipta pelajaran untuk mengisi jam-jam yang lowong
tersebut, anak-anak kita juga tidak akan belajar dengan efektif.
Waktunya banyak yang terbuang dengan percuma. Ini tentunya
menjadi masalah yang runyam pula.
Kami sendiri sangat setuju dengan perampingan kurikulum, namun
demikian perampingan ini perlu penelaahan yang seksama. Tidak
dapat dikerjakan secara terburu-buru. Perlu masukan dari banyak
pihak.
Dalam tulisan ini, kita coba melihatnya dari sudut lain. Kita
coba berupaya meningkatkan proses pembelajaran matematika dengan
kurikulum yang ada. Artinya, kita perlu mencari peluang agar
anak-anak kita tetap belajar matematika yang mampu meningkatkan
kemampuan bernalarnya, sekaligus meningkatkan apresiasinya
terhadap keberdayaan matematika.
Secara umum, strategi yang harus diambil guru dan juga orang tua
adalah mengikuti materi yang dicanangkan pada kurikulum. Itu
kita ikuti. Hanya, metode pembelajaran yang diterapkan harus
diubah. Atau malah harus dicari alternatifnya. Ini penting,
karena kita tidak ingin menimbulkan perbenturan yang rumit jika
harus mengajarkan materi yang berlainan dengan kurikulum yang
telah ditentukan.
Dari setiap materi ajar yang diberikan di kelas, guru harus
senantiasa merencanakan dengan rinci tentang pendekatan yang
akan diterapkan untuk memperkenalkan sampai menyampaikan materi
,
tersebut. Juga harus dipersiapkan ilustrasi-ilustrasi yang
menunjang serta meningkatkan motivasi anak didik dalam
pembelajaran materi termaksud.
Sedangkan kita orang tua di rumah harus meluangkan waktu yang
sangat cukup untuk anak-anak kita. Kita tidak cukup melepaskan
semua aktivitas belajarnya pada anak-anak kita atau pembantu
rumah tangga kita. Malahan, kita harus menjadi mitra dari guru
di sekolah. Sekarang, bagaimana kita dapat bermitra dengan baik?
Peluang diskusi tentang materi ajar di ruang kelas saat ini
sangat kurang. Ini seharusnya dapat dipenuhi di rumah.
Penyampaian informasi dari materi ajar itu mungkin secara umum
diberikan di
kelas, namun demikian, pemahaman sampai analisis yang mendalam
perlu dilakukan di rumah. Dan, di sini orang tua mempunyai peran
yang besar. Berikut ini diberikan beberapa ilustrasi materi ajar
yang pasti sudah kita kenal semua dari GBPP [2]. Di sini, kita
akan melihat beberapa alternatif penyampaian materi ajar yang
mungkin dicoba di kelas, serta bahan diskusi yang perlu
dicoba kita semua di rumah.
2.1 Ilustrasi I
================
Satu materi ajar yang paling menonjol dalam pengajaran
matematika di SD adalah berhitung. Dalam program pengajaran
kelas III caturwulan 3, misalnya, para siswa belajar perkalian
4 x 23 = 4 * (20 + 3) (1)
= (4x20) + (4x3) (2)
= 80 + 12 (3)
= 92 (4)
Materi ajar ini baik, karena siswa diajak untuk melihat
penyederhanaan permasalahan. Namun, jika kita hanya mengajarnya
sebatas prosedur ini, maka anak didik kita tidak bernalar
mengapa hal
ini boleh dilakukan. Kecuali itu, prosedur itu didapat anak
didik karena diberitahu oleh gurunya. Sebaiknya, anak didik itu
mencari sendiri pola yang memberikan 'conjecture' atau dugaan
bahwa memang diperbolehkan mengelompokkan perhitungan tersebut.
Jadi, sifat atau ide matematika itu berasal dari siswa itu
sendiri.
Selain itu, para anak didik perlu diajak berdiskusi tentang
matematika. Mereka perlu diajak berbahasa matematika untuk
memecahkan permasalahan. Untuk itu, materi ajar di atas dapat
pula disampaikan dengan suatu modifikasi. Misalnya, disampaikan
dengan pertanyaan berikut
jika 4 x 22 = 88, maka 4 x 23 = (5)
Lalu kita dapat minta setiap anak menceritakan argumennya.
Sedangkan kita orang tua yang menyediakan proses pembelajaran di
rumah juga dapat mengajukan bahan-bahan diskusi tersebut. Ini
akan meningkatkan daya nalar anak-anak kita.
2.2 Ilustrasi II
================
Siswa di kelas III pada caturwulan 3 belajar penjumlahan
bilangan dari 0 sampai dengan 100. Mereka sering diminta
menemukan nilai uang logam kedua, jika uang logam pertama adalah
Rp. 50,00 dan jumlah uang keseluruhan adalah Rp. 75,00. Atau,
dalam pernyataan matematika, siswa diminta menemukan "
titik-titik" , sehingga 50 + ...= 75. (6)
Jenis pertanyaan ini sangat standard. Jawabnya hanyalah satu.
Para siswa hanya dapat menjawab benar atau salah. Mereka tidak
dapat mendiskusikan jawabnya secara kritis. Pernalaran
kreatif juga tidak mekar. Sangat lain jika kita kedepankan
permasalahannya dengan cara lain. Misalnya, asumsikan kita
mempunyai dua buah uang logam di dalam kantung. Jika uang logam
itu merupakan pecahan Rp.25,00, atau Rp. 50,00, berapakah uang
kita? Dengan cara inipara siswa belajar berpikir alternatif.
Mereka sudah terbiasa dengan problem solving. Selanjutnya, kita
dapat mengajukan pertanyaan seperti: mungkinkah jumlah uang kita
Rp. 25,00?
2.3 Ilustrasi III
=================
Siswa SD kita sangat kurang dikenalkan dengan estimasi. Padahal,
kita tahu bahwa estimasi merupakan satu hal yang sangat penting
dalam matematika. Untuk ini, kita dapat mendiskusikan
misalnya: jika kita mempunyai 27 batang lidi dan setiap 5 batang
lidi kita ikat, maka ada berapa ikat batang lidi? Anak SD kelas
dua sebenarnya sudah harus bekerja dengan jenis estimasi seperti
ini. Mereka harus sudah terbiasa dengan permasalahan seperti
ini.
Yang perlu pula ditumbuhkembangkan di sini adalah " sense" dari
bilangan pecahan. Misalnya, kita memberikan bujur sangkar
terbuat dari kertas putih pada tiap siswa yang sebagian telah
sengaja kita "kotori" dengan tinta. Selanjutnya, setiap siswa
diminta untuk mengestimasi seberapa besar dari bujur sangkarnya
yang terkena tinta tersebut. Kegiatan ini juga akan meningkatkan
kemampuan siswa dalam pengukuran.
Di sini, para siswa sebaiknya diajak berbahasa dengan
menggunakan kata-kata matematika seperti " kira-kira" , " lebih
besar" , dan "lebih kecil".
3. Penutup
==========
Secara ringkas, para guru dan orang tua perlu berupaya agar
anak-anak kita bernalar dalam pelajaran matematika. Mereka dapat
meningkatkan pernalaran kritis dan kreatif mereka melalui
proses belajar matematika. Untuk itu, guru dan orang tua perlu
merancang bahan belajar dengan baik, sehingga anak-anak kita, di
samping menyerap materi ajar, mampu bernalar.
Dalam prosesnya, anak didik kita akan masuk dalam wacana dengan
bahasa matematika yang tegas. Ini merupakan suatu kesempatan
yang baik bagi anak-anak kita untuk belajar berbahasa
dengan pernalaran yang benar dengan pengungkapan yang tepat.
Jika para guru di kelas dan orang tua di rumah mampu menyediakan
proses pembelajaran matematika yang bermutu seperti di
atas, maka anak-anak kita akan mampu bernalar secara kritis,
aktif, dam kreatif. Tentunya ini mengharuskan kita semua untuk
belajar secara berkelanjutan. Artinya, kita semua harus berupaya
menumbuhmekarkan masyarakat kita untuk menjadi masyarakat
pemelajar sepanjang hayat.
Daftar Pustaka
==============
[1] Dudley, U., Is Mathematics Necessary?, The College
Mathematics Journal, Vol. 28, No.5, 1997, 360-364.
[2] Kurikulum Pendidikan Dasar, Garis-garis Besar Program
Pengajaran (GBPP) Sekolah Dasar, Mata Pelajaran:Matematika,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.
[3] Riley, R. W ., The State of Mathematics Education: Building
A Strong Foundation for the 21st Century, Notices of the AMS,
Apri11998, 487-491.
BACK |