|
Cara Mengajar
Operasi PERKALIAN
Perkalian adalah
konsep matematika utama yang seharusnya dipelajari oleh anak-anak
setelah mereka mempelajari operasi penambahan dan pengurangan.
Bila operasi pertambahan dan pengurangan ini sudah diperkenalkan
pada kelas satu di sekolah dasar, maka biasanya operasi
perkalian mulai diperkenalkan pada kelas tiga di sekolah
dasar. Para orang tua mungkin ingin memahami bagaimana caranya
mengajarkan ketrampilan perkalian ini secara benar kepada
anak-anak mereka.
Metode untuk
mengajarkan Perkalian pada tahap awal yang paling sesuai adalah
dengan menghubungkan ke konsep Penambahan, yaitu dengan memandang
perkalian sebagai penambahan beruntun (3*4 = 4+4+4 = 12). Karena dengan pendekatan penambahan beruntun ini, si anak dapat
menggunakan pemahaman yang telah didapat selama mempelajari
operasi Penambahan untuk selanjutnya digunakan mempelajari
Perkalian. Dengan pendekatan ini konsep Perkalian dipandang oleh
si anak sebagai perkembangan wajar dari konsep Penambahan yang
telah dimengerti olehnya.
Ada beberapa
tahap untuk mengajarkan anak-anak mengenai konsep perkalian ini.
Tahap-tahap ini bergantung pada kemampuan (bukan pada umur) anak
tersebut secara unik sehingga tidak dapat dipaksakan dalam proses
pengajarannya. Untuk memudahkan, cara pengajaran operasi perkalian
dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pengenalan perkalian, tahap
perkalian tradisional, tahap perkalian mental. Yang nantinya akan
dibahas secara terinci satu demi satu.
1. Tahap
Pengenalan Perkalian
Dalam tahap ini,
diperkenalkan konsep Perkalian sebagai Penambahan Beruntun dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya dengan menggunakan wadah telur (atau
wadah lain yang dalamnya bersekat-sekat), dan dengan menggunakan
kelereng untuk mengajarkan operasi perkalian, misalnya 3*4.
Langkah pertama adalah menjelaskan bahwa Operasi Perkalian 3*4
mempunyai arti tiga kelompok dari 4 (empat) kelereng. Kemudian
diilustrasikan dengan mengisi tiga ruang dalam wadah telor
tersebut masing-masing dengan 4 (empat) kelereng. Selanjutnya
siswa diminta untuk membilang semua kelereng yang ada dalam wadah
telor tersebut dari 1 (satu) s.d 12 (duabelas).
Selanjutnya kita
mengenalkan Sifat Komutatif dari Perkalian, dengan
mengambil kembali keduabelas kelereng tadi. Kemudian mengajarkan
bahwa 3*4 = 4*3, dengan menjelaskan 4*3 mempunyai arti empat
kelompok dari 3 (tiga) kelereng sembari meletakkan keduabelas
kelereng tersebut ke dalam empat ruang dalam wadah telor tersebut
masing-masing dengan 3 (tiga) kelereng. Lakukan permainan ini
berulang-ulang dengan kasus-kasus perkalian dasar yang lain.
Cara alternatif
yang lain untuk mengajarkan menggunakan kertas berpetak dan pensil
berwarna. Misalkan untuk mengajarkan 3*4, yang di sini mempunyai
arti tiga kelompok dari 4 (empat) kotak. Sehingga siswa akan
mewarnai 3 baris dengan 4 (empat) kotak pada masing-masing baris
(4 + 4 + 4). Selanjutnya untuk mengajarkan 4*3, yang disini
mempunyai arti empat kelompok dari 3 (tiga) kotak, siswa dapat
mewarnai 4 baris dengan 3 (tiga) kotak pada masing-masing baris (3
+ 3 + 3 + 3). Untuk membandingkan kedua gambar tersebut, gambar
kedua dapat diputar 90 derajat sehingga akan sama persis dengan
gambar pertama. Kunci pada tahap pengenalan perkalian ini adalah
seluruh pengajarannya menggunakan Contoh Nyata dan
Kata-kata, belum ada notasi angka tertulis dalam tahap ini.
2. Tahap
Perkalian Tradisional
Pada
tahap ini tentunya dimulai dengan penulisan operator perkalian ( *
). Yang menjadi masalah paling pokok dalam mengajarkan operasi
perkalian adalah mengajarkan Tabel Perkalian dari 1 (satu) s.d 9 (sembilan)
dengan bertahap sampai siswa dapat menghafal di luar kepala
tabel perkalian ini. Selanjutnya setelah tabel perkalian ini
dikuasai, urutan pengajarannya adalah berdasarkan jumlah digit
bilangan yang terlibat, misalnya satuan, puluhan, ratusan dan
seterusnya. Pada setiap digit bilangan ini dilakukan latihan yang
berulang-ulang agar siswa dapat menguasai dengan mahir. Baru
kemudian berpindah ke digit bilangan yang lebih banyak.
Tabel Perkalian
|
|
0 |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
|
0 |
0x0 |
0x1 |
0x2 |
0x3 |
0x4 |
0x5 |
0x6 |
0x7 |
0x8 |
0x9 |
|
1 |
1x0 |
1x1 |
1x2 |
1x3 |
1x4 |
1x5 |
1x6 |
1x7 |
1x8 |
1x9 |
|
2 |
2x0 |
2x1 |
2x2 |
2x3 |
2x4 |
2x5 |
2x6 |
2x7 |
2x8 |
2x9 |
|
3 |
3x0 |
3x1 |
3x2 |
3x3 |
3x4 |
3x5 |
3x6 |
3x7 |
3x8 |
3x9 |
|
4 |
4x0 |
4x1 |
4x2 |
4x3 |
4x4 |
4x5 |
4x6 |
4x7 |
4x8 |
4x9 |
|
5 |
5x0 |
5x1 |
5x2 |
5x3 |
5x4 |
5x5 |
5x6 |
5x7 |
5x8 |
5x9 |
|
6 |
6x0 |
6x1 |
6x2 |
6x3 |
6x4 |
6x5 |
6x6 |
6x7 |
6x8 |
6x9 |
|
7 |
7x0 |
7x1 |
7x2 |
7x3 |
7x4 |
7x5 |
7x6 |
7x7 |
7x8 |
7x9 |
|
8 |
8x0 |
8x1 |
8x2 |
8x3 |
8x4 |
8x5 |
8x6 |
8x7 |
8x8 |
8x9 |
|
9 |
9x0 |
9x1 |
9x2 |
9x3 |
9x4 |
9x5 |
9x6 |
9x7 |
9x8 |
9x9 |
a. Cara
Mengajarkan Perkalian dengan bilangan 0 (nol) dan 1 (satu) [
Bagian berstabilo hijau
dalam tabel perkalian]
Pada
level ini diperkenalkan sifat yang mendasar dari operasi perkalian
terhadap bilangan 0 (nol) dan 1 (satu). Mula-mula perkalian dengan
bilangan 0 (nol), misalnya 0*3. Berdasarkan pemahaman bahwa
perkalian merupakan pertambahan berulang maka dapat dijelaskan
bahwa 0*3 = 0 + 0 + 0 = 0. Sedangkan untuk perkalian 3*0 dapat
dijelaskan mengunakan Konsep komutatif yang telah dipahami siswa
dalam tahap sebelumnya, sehingga 3*0 = 0*3 = 0. Demikian pula
untuk perkalian bilangan-bilangan lain dengan bilangan 0 (nol).
Selanjutnya
untuk perkalian dengan bilangan 1(satu), misalnya 1*4. Berdasarkan
pemahaman bahwa perkalian merupakan pertambahan berulang maka
dapat dijelaskan bahwa 1*4 = 1+1+1+1 = 4. Sedangkan untuk
perkalian 4*1dapat dijelaskan mengunakan Konsep komutatif yang
telah dipahami siswa dalam tahap sebelumnya, sehingga 4*1 = 1*4 =
4. Demikian pula untuk perkalian bilangan-bilangan lain dengan
bilangan 1 (satu).
Cara ini
diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
b. Cara
Mengajarkan Perkalian dengan bilangan 2 (dua), 5 (lima) dan 9 (sembilan)
[ Bagian berstabilo kuning
dalam tabel perkalian]
Di
sini akan dipelajari cara mengajarkan perkalian dengan bilangan 2
(dua), 5 (lima) dan 9 (sembilan). Mengapa bilangan ini didahulukan
dalam pengajarannya dibandingkan dengan bilangan yang lain? Hal
ini karena bilangan 2 (dua), 5 (lima) dan 9 (sembilan) mempunyai
pola yang mudah untuk dipahami.
Mula-mula
perkalian dengan bilangan 2 (dua), misalnya 2*3. Berdasarkan
pemahaman bahwa perkalian merupakan pertambahan berulang maka
dapat dijelaskan bahwa 2*3 = 2+2+2 = 6. Sedangkan untuk perkalian
3*2 dapat dijelaskan mengunakan Konsep komutatif yang telah
dipahami siswa dalam tahap sebelumnya, sehingga 3*2 = 2*3 = 6.
Demikian pula untuk perkalian bilangan-bilangan lain dengan
bilangan 2 (dua) yang selalu menghasilkan bilangan GENAP, yaitu
dari 2 (dua) s.d 18 (delapanbelas).
Untuk perkalian
dengan bilangan 5 (lima), misalnya 5*3. Berdasarkan pemahaman
bahwa perkalian merupakan pertambahan berulang maka dapat
dijelaskan bahwa 5*3 = 5+5+5 = 15. Sedangkan untuk perkalian 3*5
dapat dijelaskan mengunakan Konsep komutatif yang telah dipahami
siswa dalam tahap sebelumnya, sehingga 3*5 = 5*3 = 15. Demikian
pula untuk perkalian bilangan-bilangan lain dengan bilangan 5
(lima) yang selalu menghasilkan bilangan dengan DIGIT terakhir
5 (lima) atau 0 (nol), yaitu dari 5, 10, sampai dengan 45..
Selanjutnya
untuk perkalian dengan bilangan 9 (sembilan), misalnya 9*3.
Berdasarkan pemahaman bahwa perkalian merupakan pertambahan
berulang maka dapat dijelaskan bahwa 9*3 = 9+9+9 = 27. Sedangkan
untuk perkalian 3*9 dapat dijelaskan mengunakan Konsep komutatif
yang telah dipahami siswa dalam tahap sebelumnya, sehingga 3*9 =
9*3 = 27. Demikian pula untuk perkalian bilangan-bilangan lain
dengan bilangan 9 (sembilan) yang selalu menghasilkan bilangan
dengan JUMLAH digitnya selalu 9 (sembilan) contohnya 27 [2+7=9].
Perhatikan pula hasilkali yang lain dengan bilangan 9, yaitu 18,
27, 36, 45, 54, 63, 72, dan 81
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
c. Cara
Mengajarkan Perkalian dengan bilangan 3 (tiga), 4 (empat), 6 (enam),
7 (tujuh) dan 8 (delapan) [ Bagian berstabilo
merah muda dalam tabel
perkalian]
Untuk Perkalian
3*3, 3*4, dan 4*4 masih mudah diajarkan. Caranya dapat dengan
menggunakan pemahaman pertambahan berulang. Contohnya 3*4 =
3+3+3+3 = 12. Sedangkan untuk perkalian dengan bilangan 6, 7 dan 8
dapat menggunakan Sifat Distributif dari perkalian untuk
mempermudah penjelasannya.
Pertama Sifat
Distribusi ini diterapkan untuk perkalian 6, 7 dan 8 dengan
bilangan yang kecil (3 dan 4) terlebih dahulu. Contohnya untuk
kasus perkalian 3*7 dapat disederhanakan menjadi 3* (4+3) = 3*4 +
3*3 = 12 +9 = 21. Atau contoh lain 4*8 = 4* (4+4) = 4*4 +4*4 = 16
+ 16 = 32.
Dengan menguasai
perkalian di atas maka dapat diajarkan 6, 7 dan 8 dengan bilangan
yang besar. Misalnya 6*7 = 6* (3+4) = 6*3 + 6*4 = 18 + 24 = 42.
Atau contoh lain 7*8 = 7* (4+4) = 7*4 + 7*4 = 28 + 28 = 56.
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
KETERANGAN :
Bagian Tabel Perkalian dengan stabilo berwarna
biru dapat dipelajari dengan
mudah dengan menggunakan Sifat komutatif dari Perkalian.
d. Cara
Mengajarkan Perkalian Puluhan dan Satuan ( sebagai contoh 43 * 5)
Letakkan satu
bilangan (43) di atas bilangan yang lainnya (5) sedemikian
sehingga baik puluhan maupun satuannya berada dalam satu garis
lurus. Dan tarik garis horisontal dibawah bilangan kedua.
43
5
Kalikan kedua
digit satuan dari dua bilangan tersebut (3*5 = 15). letakkan Angka
1 (‘SATU’) diatas kolom puluhan dan letakkan Angka 5 (‘LIMA’) pada
bawah garis horisontal dengan letak yang sesuai.
1
43
5
5
Kalikan digit
puluhan dari bilangan pertana dengan bilangan ke dua. (4*5 = 20).
Tambahkan hasilnya dengan Angka 1 (‘SATU’) diatas kolom puluhan,
sehingga didapat 20+1 = 21. Letakkan hasilnya (21) pada bawah
garis horisontal dengan letak yang sesuai
1
43
5
215
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
e. Cara
Mengajarkan Perkalian Puluhan ( sebagai contoh 12 * 43)
Letakkan satu
bilangan (12) di atas bilangan yang lainnya (43) sedemikian
sehingga baik puluhan maupun satuannya berada dalam satu garis
lurus. Dan tarik garis horisontal dibawah bilangan kedua.
12
43
Kalikan bilangan
pertama dengan digit satuan dari bilangan ke dua. (12*3 = 36).
Letakkan hasilnya (36) pada bawah garis horisontal dengan letak
yang sesuai.
12
43
36
Kalikan bilangan
pertama dengan digit puluhan dari bilangan ke dua. (12*4 = 48).
Letakkan hasilnya (48) pada bawah garis horisontal dengan letak
yang sesuai
12
43
36
48_
Kemudian
jumlahkan hasil yang telah didapat dari dua perkalian sebelumnya :
12
43
36
48_
516
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada.
Kemudian kita masuk ke dalam digit bilangan yang lebih tinggi
misalnya ratusan, ribuan dan seterusnya.
3. Tahap
Perkalian Mental
Perhitungan
Mental adalah cara menghitung dengan hanya menggunakan Otak
manusia, tanpa dengan bantuan peralatan yang lain. Dalam
penelitian didapatkan kesimpulan bahwa perhitungan mental ini
dapat meningkatkan kepercayaan diri, kecepatan merespon, ingatan
dan daya konsentrasi pada para praktisinya.
Kunci utama
dalam Perkalian secara mental adalah Ingatan (memori) dalam
menjumlahkan dari 0 (nol) s.d 9 (sembilan) yang sudah diluar
kepala. Serta Visualisasi (visualization) dari proses
manipulasi operasi perkalian. Berdasarkan cara memvisualisasinya,
Perkalian Mental dapat dibagi dalam dua kategori:
A. Visualisasi
Langsung (Direct Visualization)
Di sini konsep
Metode Horisontal mulai berperan secara dominan. Pengenalan Konsep
Asosiasi Posisi dengan menggunakan Notasi Pagar adalah
esensial untuk menggunakan visualisasi secara langsung ini. Kata
‘langsung’ di sini artinya adalah kita langsung bermain dengan
konsep abstrak dari Angka tanpa menggunakan peralatan bantuan.
Mula-mula siswa
diajarkan menghitung perkalian dengan metode horisontal dengan
Notasi Pagarnya secara tertulis, selanjutnya mereka dilatih untuk
membayangkan (memvisualisasi) proses manipulasi yang telah
dilakukannya.
Contoh:
a. Cara
mengajarkan Perkalian Mental Puluhan dengan Satuan (sebagai contoh
84*6)
Mula-mula
diajarkan pola horisontal dari operasi perkalian ab*c = a*c | b*c. Selanjutnya didapat:
(8 | 4) * (6) =
(8*6) | (4*6)
Di sini Ingatan
harus bertindak dengan menghitung setiap kolom dalam pagar sebagai
berikut :
(8*6) | (4*6) =
48 | 24
Selanjutnya
dilakukan perggeseran agar jumlah digit pada kolom sesuai dengan
jumlah Notasi Pagarnya, sebagai berikut:
48 | 24 = 48+2 |
4 = 50 | 4
Sehingga
hasilnya adalah 504
Jadi disini
terdapat tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Mengalikan
Bilangan sesuai Pola Horisontal untuk Perkalian
a*b | a*c
=
48 | 24
2. Menggeser
agar jumlah digit pada kolom sesuai dengan jumlah Notasi Pagarnya
48 | 24
= 50
| 4
3. Sehingga
jawabannya adalah 504
KETERANGAN:
Perhatikan pola perhitungan yang tetap konsisten untuk setiap soal
yang ada yaitu mulai dari Kanan ke Kiri
b. Cara
mengajarkan Perkalian Mental Puluhan (sebagai contoh 84*35)
Mula-mula
diajarkan pola horisontal dari operasi perkalian ab*cd = a*c | a*d
+ b*c | b*d, selanjutnya diajarkan bagaimana Notasi Pagar bekerja
pada setiap bilangan yang terlibat sehingga didapat 84 = 8 | 4 dan
35 = 3 | 5. Selanjutnya didapat
(8 | 4) * (3 |
5) = (8*3) | (8*5 + 4*3) | (4*5)
Di sini Ingatan
harus bertindak dengan menghitung setiap kolom dalam pagar sebagai
berikut :
(8*3) | (8*5 +
4*3) | (4*5) = 24 | 40+12 | 20 = 24 | 52 | 20
Selanjutnya
dilakukan perggeseran agar jumlah digit pada kolom sesuai dengan
jumlah Notasi Pagarnya, sebagai berikut:
24 | 52 | 20 =
24 | 52+2 | 0 = 24 | 54 | 0
Kemudian,
24 | 54 | 0 =
24+5 | 4 | 0 = 29 | 4 | 0
Sehingga
hasilnya adalah 2940
Jadi disini
terdapat tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Mengalikan
Bilangan sesuai Pola Horisontal untuk Perkalian
a*c | a*d +
b*c | b*d = (24 | 52 | 20)
2. Menggeser
agar jumlah digit pada kolom sesuai dengan jumlah Notasi Pagarnya
(24 | 52 |
20) = (24 | 54 | 0 ) = (29 | 4 | 0)
3. Sehingga
jawabannya adalah 2940
KETERANGAN:
Perhatikan pola perhitungan yang tetap konsisten untuk setiap soal
yang ada yaitu mulai dari Kanan ke Kiri
Cara ini
kemudian di ulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
sampai dapat menghitung tanpa harus mencorat-coret pada kertas.
Kemudian kita masuk ke dalam digit bilangan yang lebih tinggi
misalnya ratusan, ribuan dan seterusnya.
B.. Visualisasi
Objek (Visualization with Object)
Biasanya objek
yang digunakan disini adalah sempoa (abacus). Disini sempoa
digunakan untuk membantu proses visualisasinya, terutama digunakan
bagi mereka yang belum mengetahui konsep Asosiasi Posisi dan bagi
mereka yang kesulitan untuk memvisualisasikan sesuatu yang abstrak
seperti Angka Desimal. Dalam kenyataannya cara Visualisasi dengan
menggunakan objek sempoa ini hanya sesuai untuk diajarkan pada
anak-anak saja. Dan kurang sesuai untuk diajarkan pada remaja atau
orang dewasa karena umumnya remaja dan orang dewasa sudah
mempunyai konsep bilangan dan operasinya yang mapan dalam benaknya
sehingga merasa kesulitan/bosan harus belajar lagi menghitung
bilangan dari awal dengan menggunakan sempoa.
(Untuk
mempelajari secara lengkap Metode Sempoa dapat dilihat pada
http://groups.yahoo.com/group/metode_horisontal/files/takashikojima1.pdf
)
Contoh:
a. Cara
mengajarkan Perkalian Mental Puluhan dengan Sempoa (sebagai contoh
6 * 84)
Disini terdapat
tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Tentukan
batang untuk bilangan pertama dan kedua pada sempoa. Kemudian
tentukan bilangan 84 pada batang AB dan 6 pada batang E.
2. Kalikan 8
dari 84 dengan 6 dan tentukan hasilnya 48 pada batang FG.
3. Kemudian
Kalikan 4 dari 84 dengan 6 dan tentukan hasilnya 24 dan tambahkan
pada batang GH
4. Sehingga
didapat jawaban 504
KETERANGAN:
Perhatikan pola perhitungan yang tetap konsisten untuk setiap soal
yang ada yaitu mulai dari Kiri ke Kanan
b. Cara
mengajarkan Perkalian Mental Puluhan dengan Sempoa (sebagai contoh
35 * 84)
Disini terdapat
tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Tentukan
batang untuk bilangan pertama dan kedua pada sempoa. Kemudian
tentukan bilangan 84 pada batang AB dan 35 pada batang EF.
2. Kalikan 5
dari 35 dengan 8 dari 84 dan tentukan hasilnya 40 pada batang GH
dan 5 dari 35 dengan 4 dari 84 dan tambahkan hasilnya 20 pada
batang HI. Maka akan didapat totalnya 420 pada batang GHI.
3. Kalikan 3
dari 35 dengan 8 dari 84 dan tambahkan hasilnya 24 pada batang FG.
Sehingga hasilnya adalah 2820. Selanjutnya 3 dari 35 dengan 4 dari
84 dan tambahkan hasilnya 12 pada batang GH. Maka akan didapat
totalnya 2940 pada batang FGHI.
4. Sehingga
didapat hasil akhir 2940.
KETERANGAN:
Perhatikan pola perhitungan yang tetap konsisten untuk setiap soal
yang ada yaitu mulai dari Kiri ke Kanan. Metode Sempoa
untuk perkalian sebenarnya mempunyai langkah mirip dengan
perhitungan perkalian secara tradisional, hanya arah menghitungnya
yang berbeda.
BACK |