|
Cara Mengajar
Operasi PEMBAGIAN
Pembagian adalah
konsep matematika utama yang seharusnya dipelajari oleh anak-anak
setelah mereka mempelajari operasi penambahan, pengurangan dan
perkalian. Biasanya operasi pembagian mulai diperkenalkan pada
kelas tiga di sekolah dasar hampir bersamaan dengan
pengajaran Perkalian, tepatnya adalah Perkalian diajarkan terlebih
dahulu baru kemudian Pembagian dan kemudian keduanya akan
diajarkan secara paralel. Para orang tua mungkin ingin memahami
bagaimana caranya mengajarkan ketrampilan pembagian ini secara
benar kepada anak-anak mereka.
Metode untuk
mengajarkan Pembagian pada tahap awal yang paling sesuai adalah
dengan menghubungkan ke konsep Pengurangan, yaitu dengan memandang
pembagian sebagai pengurangan beruntun (24/4 = 6 artinya
adalah 24 –4 –4 –4 –4 – 4 –4 = 0). Karena dengan pendekatan
pengurangan beruntun ini, si anak dapat menggunakan pemahaman yang
telah didapat selama mempelajari operasi pengurangan untuk
selanjutnya digunakan mempelajari Pembagian. Cara selanjutnya
untuk mengajarkan operasi Pembagian adalah dengan memandang
Pembagian sebagai Invers Perkalian (20/5 = ? ó 5 * ? =
20). Cara pengajaran Pembagian sebagai Invers Perkalian dilakukan
setelah siswa telah memahami operasi perkalian dengan cukup baik.
Dengan kedua cara di atas diharapkan siswa mampu melihat hubungan
yang erat antara pembagian dengan ke tiga operasi dasar aritmatika
yang lain.
Ada beberapa
tahap untuk mengajarkan anak-anak mengenai konsep pembagian ini.
Tahap-tahap ini bergantung pada kemampuan (bukan pada umur) anak
tersebut secara unik sehingga tidak dapat dipaksakan dalam proses
pengajarannya. Untuk memudahkan, cara pengajaran operasi pembagian
dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pengenalan pembagian, tahap
pembagian tradisional, tahap pembagian mental. Yang nantinya akan
dibahas secara terinci satu demi satu.
1. Tahap
Pengenalan Pembagian
Dalam tahap ini,
diperkenalkan terlebih dahulu konsep Pembagian sebagai Pengurangan
Beruntun dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan menggunakan
wadah telur (atau wadah lain yang dalamnya bersekat-sekat), dan
dengan menggunakan kelereng untuk mengajarkan operasi pembagian,
misalnya 12/4. Langkah pertama adalah ambil duabelas kelereng, dan
meminta siswa untuk membilangnya. Kemudian ambil 4 (empat)
kelereng dan di masukkan ke dalam ruangan dalam wadah telur
tersebut, ulangi terus hal ini dan letakkan dalam ruangan yang
berbeda sampai keduabelas kelereng tersebut habis (12 – 4 – 4 – 4
= 0). Jika hal ini telah selesai, maka hitunglah jumlah ruangan
dari wadah telur yang terisi 4 (empat) kelereng tersebut, yaitu
sebanyak 3 (tiga) ruangan. Akhirnya siswa dijelaskan bahwa jumlah
ruangan yang terisi kelereng tersebut adalah jawaban dari soal
pembagian 12/4, yang sama dengan 3.
Cara alternatif
yang lain untuk mengajarkan operasi pembagian dengan menggunakan
kertas berpetak dan pensil berwarna. Misalkan untuk mengajarkan
12/4, di sini siswa diminta untuk mewarnai 12 (duabelas) kotak.
Kemudian siswa diminta memotong empat kotak-empat kotak sampai 12
(duabelas) kotak tadi habis. Hasil potongannya kemudian dihitung
jumlahnya, yang merupakan solusi dari masalah pembagian 12/4
tersebut, yang sama dengan 3 (tiga). Selanjutnya untuk mengenalkan
konsep Pembagian sebagai Invers Perkalian, susun ulang lagi
tiga bagian dari empat kotak - empat kotak tersebut sampai
membentuk 12 (duabelas) kotak semula [3*4 = 12]. Proses pengajaran
ini terus dibolak-balik sampai siswa mengerti makna dari konsep
Invers.
Sebagai
Keterangan tambahan, cara mengajarkan fakta-fakta pembagian dapat
menggunakan gambar-gambar benda nyata dalam bentuk soal
secara berulang-ulang. Selanjutnya sebagai keterangan notasi
pembagi yang sering digunakan adalah a/b atau a
÷ b ,dimana a disebut
Pembilang /
Yang Dibagi
dan b adalah
Penyebut /
Pembagi.
2. Tahap
Pembagian Tradisional
Pada tahap ini tentunya dimulai dengan penulisan
operator pembagian (
÷ ). Yang menjadi
masalah paling pokok dalam mengajarkan operasi pembagian adalah
mengajarkan Pembagian Dasar dengan penyebut (denominator) 1
(satu) s.d 9 (sembilan) TANPA RESIDU terlebih dahulu. Baru
kemudian Pembagian Dasar dengan penyebut (denominator) 1 (satu)
s.d 9 (sembilan) dengan RESIDU.
a. Cara
Mengajarkan Pembagian dengan pembagi 0 (nol), 1 (satu), 2 (dua)
dan 3 (tiga)
1. Dibagi dengan
bilangan 0 (nol)
Bilangan
pembilang tidak akan dapat dibagi dengan bilangan 0 (nol)
karena tidak mungkin untuk membuat 0 kelompok dari sebuah bilangan.
2. Dibagi dengan bilangan 1 (satu)
Sembarang bilangan dibagi dengan bilangan 1 (satu), hasilnya
adalah
bilangan itu sendiri.
Jika kita membagi dengan bilangan 1 (satu) berarti akan mempunyai
satu kelompok benda saja maka semua benda akan termuat dalam satu
kelompok tersebut
3. Dibagi dengan bilangan 2 (dua) dan 3 (tiga)
Contoh dari pembagian dengan
Pembilang 2 (dua) dan 3 (tiga) sebagai berikut:
|
2 (Dua) |
|
0 ÷ 2 = 0 |
2 ÷ 2 = 1 |
4 ÷ 2 = 2 |
6 ÷ 2 = 3 |
8 ÷ 2 = 4 |
|
10 ÷ 2 = 5 |
12 ÷ 2 = 6 |
14 ÷ 2 = 7 |
16 ÷ 2 = 8 |
18 ÷ 2 = 9 |
|
3 (Tiga) |
|
0 ÷ 3 = 0 |
3 ÷ 3 = 1 |
6 ÷ 3 = 2 |
9 ÷ 3 = 3 |
12 ÷ 3 = 4 |
|
15 ÷ 3 = 5 |
18 ÷ 3 = 6 |
21 ÷ 3 = 7 |
24 ÷ 3 = 8 |
27 ÷ 3 = 9 |
Cara ini
diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
b. Cara
Mengajarkan Pembagian dengan pembagi 4 (empat), 5 (lima), dan 6 (enam)
Contoh dari pembagian dengan Pembilang 4 (empat), 5 (lima), dan 6
(enam) sebagai berikut:
|
4 (empat) |
|
0 ÷ 4 = 0 |
4 ÷ 4 = 1 |
8 ÷ 4 = 2 |
12 ÷ 4 = 3 |
16 ÷ 4 = 4 |
|
20 ÷ 4 = 5 |
24 ÷ 4 = 6 |
28 ÷ 4 = 7 |
32 ÷ 4 = 8 |
36 ÷ 4 = 9 |
|
5 (lima) |
|
0 ÷ 5 = 0 |
5 ÷ 5 = 1 |
10 ÷ 5 = 2 |
15 ÷ 5 = 3 |
20 ÷ 5 = 4 |
|
25 ÷ 5 = 5 |
30 ÷ 5 = 6 |
35 ÷ 5 = 7 |
40 ÷ 5 = 8 |
45 ÷ 5 = 9 |
|
6 (enam) |
|
0 ÷ 6 = 0 |
6 ÷ 6 = 1 |
12 ÷ 6 = 2 |
18 ÷ 6 = 3 |
24 ÷ 6 = 4 |
|
30 ÷ 6 = 5 |
36 ÷ 6 = 6 |
42 ÷ 6 = 7 |
48 ÷ 6 = 8 |
54 ÷ 6 = 9 |
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
c. Cara
Mengajarkan Pembagian dengan pembagi 7 (tujuh), 8 (delapan), dan 9
(sembilan)
Contoh dari pembagian dengan Pembilang 7 (tujuh), 8 (delapan), dan
9 (sembilan) sebagai berikut:
|
7 (tujuh) |
|
0 ÷ 7 = 0 |
7 ÷ 7 = 1 |
14 ÷ 7 = 2 |
21 ÷ 7 = 3 |
28 ÷ 7 = 4 |
|
35 ÷ 7 = 5 |
42 ÷ 7 = 6 |
49 ÷ 7 = 7 |
56 ÷ 7 = 8 |
63 ÷ 7 = 9 |
|
8 (delapan) |
|
0 ÷ 8 = 0 |
8 ÷ 8 = 1 |
16 ÷ 8 = 2 |
24 ÷ 8 = 3 |
32 ÷ 8 = 4 |
|
40 ÷ 8 = 5 |
48 ÷ 8 = 6 |
56 ÷ 8 = 7 |
64 ÷ 8 = 8 |
72 ÷ 8 = 9 |
|
9 (sembilan) |
|
0 ÷ 9 = 0 |
9 ÷ 9 = 1 |
18 ÷ 9 = 2 |
27 ÷ 9 = 3 |
36 ÷ 9 = 4 |
|
45 ÷ 9 = 5 |
54 ÷ 9 = 6 |
63 ÷ 9 = 7 |
72 ÷ 9 = 8 |
81 ÷ 9 = 9 |
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada
d. Cara
Mengajarkan Pembagian Puluhan dengan Residu.(Cara Umum)
Untuk mengajarkan Pembagian dengan Residu (atau Pembagian secara
Umum) cara yang paling efektif adalah dengan notasi Kurung Bagi
(Division Bracket). Misalnya untuk soal 43
÷ 7, sebagai berikut:
- Letakkan
Pembagi/ Penyebut (7) sebelum notasi Kurung Bagi dan letakkan
bagian yang Dibagi/ Pembilang dibawah notasi Kurung Bagi tersebut..
___
7 ) 43
- Uji digit
pertama dari yang Dibagi (4), yang lebih kecil dari 7 maka tidak
bias dibagi dengan bilangan 7 untuk mendapatkan hasil baginya.
Kemudian pandang dua digit pertama dari yang Dibagi (43) dan
tentukan berapa banyak 7 dapat membaginya. Dalam hal ini 42
memenuhi syarat tersebut (6*7 = 42). Selanjutnya letakkan 6 di
atas Notasi Kurung Bagi.
__6_
7 ) 43
Kalikan 6 dengan
7 dan letakkan hasilnya (42) dibawah yang dibagi (43).
__6_
7 ) 43
42
Selanjutnya
tarik garis bawah 42, dan kurangkan 42 ini dengan yang dibagi
(43). Tuliskan hasilnya (43-42 = 1) dibawah garis bawah tersebut.
__6_
7 ) 43
42
1
Karena hasil
selisihnya (1) lebih kecil daripada Pembagi (7) maka selesailah
proses pembagiannya. Dan bilangan 1 (satu) ini adalah Residu dari
pembagian di atas, solusi pembagian tersebut ditulis sebagai 6 1/7
atau dapat ditulis juga sbb:
__6 R 1_
7 ) 43
42
1
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada.
e. Cara
Mengajarkan Pembagian secara Umum
Secara umum ketika Pembagi mempunyai digit lebih dari satu,
prosedur pembagian tradisional adalah sama dengan sebelumnya
tetapi mungkin kita membutuhkan lebih banyak corat-coret untuk
melakukan operasi perkalian dalam langkah pendugaan (guessing)
pada proses pembagian tersebut
______
Sebagai contoh
akan dihitung 14 ) 7434 ,
dengan langkah-langkah sbb:
- Karena
bilangan 7 dalam 7434 lebih kecil dari pada 14, maka dilihat
bilangan 74. Untuk mencari berapa banyak kelipatan 14 yang paling
mendekati 74 terkadang harus melakukan beberapa langkah pendugaan.
Cek sampai mendapatkan kelipatan 14 maksimum yang masih lebih
kecil dari 74.
|
2 × 14 = 28 |
5 × 14 = 70 |
|
4 × 14 = 56 |
6 × 14 = 84 |
Dari tabel
perhitungan, dapat dilihat kelipatan 14 yang sesuai untuk
mendekati 74 adalah 5, sehingga:
_5____
14 ) 7434
70__
434
- Ulangi langkah
diatas, sekarang pandang angka 43 dari 434. Dan lakukan perkalian
untuk menduga kelipatan dari 14 yang sesuai, sbb:
2 × 14 = 28
3 × 14 = 42
4 × 14 = 56
Dari tabel
perhitungan, dapat dilihat kelipatan 14 yang sesuai untuk
mendekati 43 adalah 3, sehingga:
_53___
14 ) 7434
70__
434
42_
14
- Ulangi langkah
diatas, sekarang pandang angka 14, , dapat dilihat kelipatan 14
yang sesuai adalah 1, sehingga:
_531__
14 ) 7434
70__
434
42_
14
14
0
Karena sisa
pembagian telah mencapai 0 (nol), maka proses pembagian telah
selesai tanpa Residu.
Cara ini
kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang ada.
Kemudian kita masuk ke dalam digit bilangan yang lebih tinggi
misalnya ratusan, ribuan dan seterusnya.
3. Tahap Pembagian Mental
Perhitungan Mental adalah cara menghitung dengan hanya menggunakan
Otak manusia, tanpa dengan bantuan peralatan yang lain. Dalam
penelitian didapatkan kesimpulan bahwa perhitungan mental ini
dapat meningkatkan kepercayaan diri, kecepatan merespon, ingatan
dan daya konsentrasi pada para praktisinya.
Kunci utama dalam Pembagian secara mental adalah Ingatan (memori)
dalam melakukan Perkalian Mental yang sudah diluar kepala.
Serta Visualisasi (visualization) dari proses manipulasi
operasi pembagian Berdasarkan cara memvisualisasinya, Pembagian
Mental dapat dibagi dalam dua kategori:
A. Visualisasi Langsung (Direct Visualization)
Di sini konsep Metode Horisontal mulai berperan secara dominan.
Pengenalan Konsep Asosiasi Posisi dengan menggunakan Notasi
Pagar adalah esensial untuk menggunakan visualisasi secara
langsung ini. Kata ‘langsung’ di sini artinya adalah kita langsung
bermain dengan konsep abstrak dari Angka tanpa menggunakan
peralatan bantuan.
Mula-mula siswa diajarkan menghitung pembagian dengan metode
horisontal dengan Notasi Pagarnya secara tertulis, selanjutnya
mereka dilatih untuk membayangkan (memvisualisasi) proses
manipulasi yang telah dilakukannya. Perlu diperhatikan bahwa
Operasi Pembagian merupakan operasi yang paling sukar
dibandingkan ketiga operasi dasar aritmatika yang lain (pertambahan,
pengurangan dan perkalian). Hal ini dikarenakan dalam proses
pembagian terdapat langkah Pendugaan (guessing), sehingga
untuk melakukan proses pembagian yang efektif tidak hanya sekedar
menguasai prosedur pembagian saja tetapi siswa harus dapat melihat
POLA yang dapat memudahkan proses pembagian tersebut. Hal
ini dapat diajarkan melalui pelatihan yang intens dan
berulang-ulang.
Contoh:
a. Cara mengajarkan Pembagian
Mental yang Umum (sebagai contoh 837
÷
3)
Untuk melakukan proses pembagian secara efektif dibutuhkan
kemampuan untuk menghitung perkalian dengan cepat, yaitu
mengalikan Pembagi (3) dengan bilangan dari 1 s.d 9. [Perhatikan
ini hanya merupakan penambahan yang berurutan, jadi jika
perhitungan mental telah dikuasai akan cepat dikerjakan]
Selanjutnya diajarkan bagaimana Notasi Pagar bekerja pada bilangan
yang Dibagi (837), perhatikanlah
bilangan tersebut, mulai dari bilangan paling kiri yaitu 8
sampai dengan bilangan paling kanan yaitu 7. Digit
bilangan paling kiri yi 8 dapat didekati dengan 6 (3*2),
selanjutnya bilangan 3 dapat dibagi 3 (3*1), dan terakhir 7 dapat
didekati dengan 6 (3*2) sehingga notasi pagarnya dapat ditulis
sbb:
(8 | 3 | 7)
÷
3 = (8/3 | 3/3 | 7/3) = (2 |
1 | 2) + 201 / 3 = 212 + 201/3
Selanjutnya perhatikan bilangan residunya (201), dimana bilangan
20 dapat didekati dengan 18 (3*6) dan bilangan 1 tidak bias
didekati lagi karena lebih kecil dibandingkan bilangan pembagi,
sehingga didapat:
212 + 201/3 = 212 + (20/3 | 1/3) = 212 + (6 | 0) + 21 / 3 = 272 +
21/3
Yang dapat langsung diselesaikan menjadi 272 + 21/3 = 272 +7 = 279
Jadi disini terdapat tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Menyisipkan Notasi Pagar ke dalam Bilangan yang Dibagi (837)
seoptimal mungkin
(837) =
(8 | 3 | 7)
2. Selanjutnya melakukan operasi pembagian di dalam Notasi
Pagarsehingga didapat:
(8/3 | 3/3 | 7/3)
=
212 + 201/3
3. Ulangi prosedur 1 dan 2 untuk bilangan residu yang dihasilkan
sampai menghasilkan residu yang kurang dari bilangan Pembagi
Sehingga didapat jawabannya adalah 279
KETERANGAN: Perhatikan pola perhitungan yang tetap
konsisten untuk setiap soal yang ada yaitu mulai dari
Kiri ke Kanan
Cara ini kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang
ada sampai dapat menghitung tanpa harus mencorat-coret pada kertas.
Kemudian kita masuk ke dalam digit bilangan yang lebih tinggi.
b. Cara mengajarkan Pembagian
Mental yang Berpola (sebagai contoh 34170
÷
17)
Perhatikanlah
bilangan yang Dibagi (34170),
mulai dari bilangan paling kiri yaitu 3 sampai dengan
bilangan paling kanan yaitu 0. Dua digit bilangan paling
kiri yi 34 dapat dibagi 17, selanjutnya bilangan 17 dapat pula
dibagi 17, sehingga notasi pagarnya dapat ditulis sbb:
(34 ||| 170)
÷
17 = (34/17 ||| 170/17) = (2
||| 10)
Sehingga hasilnya
adalah (2 ||| 10) = 2010
Jadi disini terdapat
tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Menyisipkan Notasi Pagar ke dalam Bilangan yang Dibagi (34170)
seoptimal mungkin
2. Selanjutnya melakukan operasi pembagian di dalam Notasi Pagar
(34/17 ||| 170/17)
Sehingga didapat jawabannya adalah 2010
KETERANGAN: Perhatikan pola perhitungan yang tetap
konsisten untuk setiap soal yang ada yaitu mulai dari
Kiri ke Kanan
Cara ini kemudian diulang-ulang untuk berbagai variasi soal yang
ada sampai dapat menghitung tanpa harus mencorat-coret pada kertas.
Kemudian kita masuk ke dalam digit bilangan yang lebih tinggi.
B. Visualisasi Objek (Visualization with Object)
Biasanya objek yang digunakan disini adalah sempoa (abacus).
Disini sempoa digunakan untuk membantu proses visualisasinya,
terutama digunakan bagi mereka yang belum mengetahui konsep
Asosiasi Posisi dan bagi mereka yang kesulitan untuk
memvisualisasikan sesuatu yang abstrak seperti Angka Desimal.
Dalam kenyataannya cara Visualisasi dengan menggunakan objek
sempoa ini hanya sesuai untuk diajarkan pada anak-anak saja. Dan
kurang sesuai untuk diajarkan pada remaja atau orang dewasa karena
umumnya remaja dan orang dewasa sudah mempunyai konsep bilangan
dan operasinya yang mapan dalam benaknya sehingga merasa kesulitan/bosan
harus belajar lagi menghitung bilangan dari awal dengan
menggunakan sempoa.
(Untuk
mempelajari secara lengkap Metode Sempoa dapat dilihat pada
http://groups.yahoo.com/group/metode_horisontal/files/takashikojima1.pdf
)
Contoh:
a. Cara mengajarkan Pembagian
Mental yang Umum (sebagai contoh 837
÷
3)
Disini terdapat tahap-tahap manipulasi sebagai berikut:
1. Tentukan batang bilangan 837 pada batang FGH dan 3 pada batang
A.
2. Dekati bilangan 8 dari 837 dengan 6 (3*2), simpan kelipatannya
(2) pada batang D. Kemudian kurangi 8 dengan 6 (8-6=2) pada batang
F. Selanjutnya pandang residu pada batang FG (23), dekati bilangan
23 dengan 21 (3*7), simpan kelipatannya (7) pada batang E. Dan
Kurangkan 23 dengan 21 (23-21 = 2)
3. Selanjutnya pandang residu pada batang GH sekarang yang memuat
bilangan 27, bilangan ini akan habis dibagi dengan 3 (3*9 = 27).
Simpan kelipatannya (9) pada batang F. Kurangkan 27 dengan 27
(27-27=0).
4. Karena residu sudah sama dengan nol maka proses pembagian
selesai. Hasilnya adalah pada batang DEF yaitu 279.
KETERANGAN: Perhatikan pola perhitungan yang tetap
konsisten untuk setiap soal yang ada yaitu mulai dari
Kiri ke Kanan
b. Cara mengajarkan
Pembagian Mental yang Berpola (sebagai contoh 34170
÷
17)
Untuk kasus seperti ini Metode Sempoa tidak efisien karena
harus melakukan langkah-langkah perhitungan yang panjang. Padahal
jika dikenali polanya, dapat dilakukan operasi pembagian yang
singkat dengan Metode Horisontal.
BACK |