Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow Bagaimana Melakukan Visualisasi yang Benar?
Bagaimana Melakukan Visualisasi yang Benar? Print E-mail
Written by Alexander   
Thursday, 12 March 2009

Perhitungan Mental adalah cara menghitung dengan hanya menggunakan Otak manusia, tanpa dengan bantuan peralatan yang lain. Kunci utama dalam pehitungan mental ini adalah Visualisasi (visualization) dari proses manipulasi operasi perhitungan. Sekarang yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana cara melakukan visualisasi ini secara benar, sehingga hasil yang diinginkan dapat tercapai?. Banyak lembaga mental aritmatika tidak mengajarkan hal ini secara benar kepada siswanya, sehingga apa yang dicapai hanya bersandarkan pada tingkat ketekunan siswanya sendiri. Untuk menjelaskan hal ini secara lengkap akan dimulai dengan uraian latar belakang dari visualisasi ini sebagai suatu bentuk meditasi konsentrasi.

 

A. Meditasi Konsentrasi

Kata 'meditasi' [meditation] didefinisikan sebagai "praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan, terutama untuk alasan keagamaan atau  untuk membuat batin tenang." (Oxford Advanced Learner's Dictionary). Dalam kamus yang bersifat umum ini, 'meditasi' dianggap sebagai proses 'berpikir'. Ini hampir sama dengan 'kontemplasi' yang didefinisikan secara persis sama. Pada dasarnya, 'meditasi' adalah "pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terus-menerus." Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep, sehingga terjadi tumpang tindih dan  tidak dapat dibedakan secara tegas antara 'meditasi' dan 'kontemplasi'.

Salah satu bentuk dari meditasi yang umum adalah Meditasi Konsentrasi. Dalam Meditasi Konsentrasi ini, perhatian pemeditasi dipusatkan pada satu obyek meditasi, dengan tujuan (spiritual) untuk memperoleh ketenangan di dalam tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi [altered states of consciousness]. Di sini, pemeditasi memusatkan batinnya pada suatu hal, seperti doa, suatu kotak, suatu mantra, suatu nyala lilin, suatu gambar religius atau apa pun, dan menyingkirkan semua pikiran dan persepsi yang lain dari kesadarannya. Apabila yang dipakai sebagai objek konsentrasi tersebut adalah suatu gambaran visual, maka meditasi konsentrasi ini disebut sebagai proses visualisasi. Cara ini banyak digunakan dalam Budhisme Tibet.

Dalam penerapannya untuk hal-hal praktis, visualisasi ini dapat digunakan untuk memotivasi diri sendiri, untuk membantu menguasai suatu skill tertentu, atau untuk merencanakan sesuatu hal secara menyeluruh. Dalam artikel ini, proses visualisasi digunakan agar kita dapat menguasai perhitungan mental dengan cepat dan benar.

B. Visualisasi

Proses Visualisasi untuk perhitungan mental ini dimulai dengan siswa mengerjakan perhitungan soal tertentu secara tertulis dengan menggunakan Metode Horisontal. Perhitungan dilakukan sampai diperoleh hasil yang benar, kemudian soal-soal yang diberikan harus diingat-ingat oleh siswa. Bila perhitungan secara tertulis ini telah dilakukan dengan sempurna, maka siswa telah siap melakukan proses visualisasi.

Untuk melakukan proses Visualisasi secara benar untuk menguasai perhitungan mental, ikutilah enam langkah berikut :

1. Pilihlah lingkungan agar dapat duduk yang nyaman dan tenang. Kemudian duduklah dengan santai tetapi di sini perlu ditekankan disini bahwa sebaiknya posisi punggung kita sebaiknya tetap tegak.

2. Lemaskan semua otot-otot kita, usahakan agar diri kita dalam kondisi santai sepenuhnya. Hal ini sangat penting dalam visualisasi untuk mendapatkan hasil yang positif. Tutup mata anda sejenak, kemudian bernafaslah perlahan-lahan dan secara mendalam untuk mecapai keadaan batin yang tenang. Setelah melakukan hal ini, seharusnya batin kita telah menjadi hening dan tenang.

3. Sekarang, secara mental anda memvisualisasi proses perhitungan mental yang sebelumnya telah dikerjakan secara tertulis. Usahakan untuk melakukan proses perhitungan secara perlahan-lahan dan secara mendetail dengan cara memvisualisasi proses perhitungan Metode Horisantal tersebut.

4. Gunakan semua indera kita untuk ‘mewarnai’ semua proses visualisasi kita. Gunakan indera sentuhan untuk merasakan bagaimana kita mengerjakan perhitungan dengan pensil, gunakan mata kita untuk melihat bilangan-bilangan yang dihitung beserta Notasi Pagar yang membatasinya, gunakan pendengaran kita bagaimana bunyi denting pensil setiap kita melakukan perhitungan dan seterusnya. Semua ini digunakan untuk memperkuat gambaran mental yang kita buat mengenai proses perhitungan metode horisontal.

5. Lakukan afirmasi setiap anda melakukan proses perhitungan secara benar dengan cara berkata pada diri anda sendiri bahwa anda seorang yang ahli menhitung. Katakan kepada diri anda sendiri, “ Saya ahli menghitung” secara berulang-ulang.

6. Lakukan hal ini setiap hari. Lakukan perhitungan mental untuk proses perhitungan yang berurutan setiap kita mempunyai waktu luang. Misalnya 1+2 = 3, 2+3 =5, 3+5 = 8, 4+8 = 12, 5+12 = 17 dan seterusnya. Perhitungan secara berurutan ini tentunya dilakukan sesuai dengan banyaknya digit bilangan yang telah anda kuasai, kuncinya adalah kuasai dulu setiap level baru berpindah ke dalam level untuk menghitung digit bilangan yang lebih banyak Terakhir adalah tentukanlah waktu dan tempat yang tetap untuk melakukan hal ini setiap hari kurang lebih selama lima menit.

Proses visualisasi ini yang kita lakukan ini harus dikerjakan secara benar agar menghasilkan sesuatu secara efektif. Bila dilakukan secara serampangan, visualisasi ini dapat menjadi suatu proses yang hanya menghabiskan waktu atau malah dapat membuat anda melakukan sesuatu perhitungan mental secara salah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada tiga kunci untuk melakukan visualisasi secara efektif, yaitu:

1. Kebenaran. Visualisasi hanya akan meningkatkan kemampuan perhitungan anda apabila anda telah dapat menghitung dengan proses yang BENAR. Oleh karena itu, siswa yang akan melakukan proses visualisasi harus sudah mampu mengerjakan soal-soal dengan metode horintal secara SEMPURNA secara tertulis terlebih dahulu. Untuk ini memang dibutuhkan seorang pembimbing agar proses Visualisasi ini tidak dilakukan secara serampangan sehingga malah membuat siswa melakukan kesalahan perhitungan secara berulang-ulang

2. Keakuratan. Visualisasi yang dilakukan harus akurat dan mendetail untuk menjadi efektif. Untuk itu pertama kali proses Visualisasi harus dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan, tidak boleh terburu-buru dalam melakukan hal ini. Pada mulanya, lakukan semua proses perhitungan secara spesifik, jangan langsung menjawab berdasarkan perkiraan semata. Baru setelah anda sudah menguasai perhitungan mental secara mekanis, maka proses perhitungan dapat dipotong sesuai dengan kemampuan anda. Selain itu gunakan semua indera yang ada untuk memperkuat hasil visualisasinya, disini dibutuhkan imajinasi untuk ‘mewarnai’ proses perhitungan mental yang kita lakukan.

3. Terdistribusi. Visualisasi paling efektif jika dilakukan pada waktu yang terdistribusi secara merata. Di sini berlaku prinsip, melakukan visualisasi selama sepuluh menit setiap hari selama seminggu dianggap lebih efektif daripada melakukan proses visualisasi selama satu jam nonstop.

 

Penulis: Alexander Agung Santoso Gunawan 

 

Last Updated ( Saturday, 08 June 2013 )
 
< Prev   Next >