Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow Media Indonesia : T A M U K I T A
Media Indonesia : T A M U K I T A Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 12 March 2009

T A M U  K I T A
MEDIA INDONESIA ¨ MINGGU, 28 JANUARI 2007
O L E H    P R I H AN D H I N I

Berhitung ala Ivan

            SUASANA kampus Universitas Katolik (unika) Atma Jaya Jakarta, Selasa pagi (16/1), terlihat sangat ramai.  Para mahasiswa yang tengah menjalani semester pendek tampak asyik mengobrol di koridor gedung.  “Oh, Pak Ivan ada di laboratorium fisika.  Masuk saja ke gedung K1, lalu naik sampai lantai 3,” ujar seorang mahasiswa ketika Media Indonesia menyebut nama Stephanus Ivan Goenawan.

 

      Menaiki gedung yang terletak di belakang kompleks kampus itu, suasana berubah menjadi lebih lengang.  Bahkan kondisi dalam laboratorium fisika justru sangat sepi.  Hanya tampak seorang pria berperawakan kecil sibuk mengetik di hadapan sebuah komputer.  Namun,, ia langsung menyapa hangat Media Indonesia ketika datang menyambanginya.

             Dialah Stephanus Ivan Goenawan.  Mungkin tak ada yang istimewa pada sosoknya, tetapi siapa yang sangka kalau pria itu menemukan sebuah metode perhitungan baru dalam matematika, yaitu metode horisontal atau metris.  Kedengarannya memang simpel, tetapi ternyata perjuangan Ivan, begitu ia akrab disapa, tidak mudah.

            Rasa ingin tahu yang sangat besar serta rasa tidak puas atas apa yang didapatnya, membuat Ivan kerap mencari jalan sendiri dalam menyelesaikan soal-soal aritmatika sejak di bangku SMP Bruderan, Purworejo, Jawa Tengah.  “Saya selalu berpikir, ada nggak ya cara yang lebih cepat?” ungkapnya.

            Di masa beranjak remaja itulah Ivan meyakini konsep yang ditemukannya dapat berkembang menjadi sebuah metode yang paten.  Namun jalan itu ternyata sangat panjang.  Butuh waktu sekitar 15 tahun untuk mencapai titik kesuksesan.  Hanya kesabaran dan sikap fokuslah yang membuat Ivan tetap berada pada jalur untuk membangun konsep metris.

            Dosen fisika ini menjelaskan, metris merupakan metode menghitung secara mendatar.  Jika selama ini siswa menghitung perkalian menggunakan cara tradisional, yaitu dengan mengalikan dari atas ke bawah, lalu menjumlahkannya, metris dilakukan dengan mengurutkan secara mendatar dari kiri ke kanan.

            Bila dibandingkan dengan sempoa, metris memang lebih ilmiah meskipun sama-sama menggunakan perhitungan mental aritmatika dan mengandalkan konsep asosiasi posisi.  Perbedaannya, metris membuat anak bisa menjelaskan langkah yang diambil karena menggunakan cara berpikir matematika seperti yang digunakan di sekolah pada umumnya.

            Dalam Metris, konsep asosiasi posisi dipelajari secara langsung dengan mengenalkan konsep asosiasi posisi dengan notasi pagar.  “Sementara sempoa fondasinya bukan simbol metematika yang diformalkan,” jelas pria yang masih lajang itu.

            Meskipun sudah membangun asumsi metris sejak awal tahun 90-an, Ivan baru memublikasikan metris pada jurnal Unika Atma Jaya di Tahun 2000.  Tulisan itu menarik perhatian sejumlah orang yang tertarik pada bidang matematika.  Hal itu bukan berarti jalannya semakin mulus.  Ivan masih terus berjuang agar metris dapat diketahui secara luas dan dipelajari oleh semua orang.

Manusia adalah makluk yang tidak pernah puas.

Dan, karena sifat itulah, Stephanus Ivan Goenawan menemukan

Metode baru dalam berhitung.

 

            Ketika menyelesaikan studi S-2 di Institut Teknologi Bandung, ia berjumpa dengan Alexander Agung, 28, yang dianggapnya kompeten dalam bidang metematika.  Bersama Alex, ia menyusun modul metris sehingga metodenya itu lebih terorganisasi.  Semasa penyusunan modul, Ivan rajin memberikan pelatihan bagi guru-guru.  Ivan ingin mereka khususnya yang berada di daerah mendapat informasi pengetahuan baru untuk diajarkan kepada siswanya.  “Kalau terus mengajar dengan cara-cara lama, bagaimana siswa-siswa di daerah ini bisa maja?” kritiknya.

            Ivan pun sempat mengujikan metode itu pada para siswa di sebuah SD di Bogor.  Hasilnya, seorang anak berhasil menyelesaikan sebuah soal matematika lebih cepat dengan cara metris ketika disandingkan dengan seorang anak lain yang merupakan pemenang kompetisi matematika terbuka tingkat SD se-Jabotabek.

            Pria yang humoris itu menepis anggapan bahwa untuk belajar metris harus mengeluarkan sejumlah uang.  Buktinya, sejak pertengahan 2005 siapa pun dapat mengakses situs www.sigmetris.com  untuk mempelajari metode itu.  Selain itu sebuah forum diskusi dalam sebuah mailing list (milis) melengkapi niat tulus Ivan dalam menyebarkan metris.  “Semua orang bisa bertanya dan memberi masuka di sini.  Jika ada pertanyaan pun tidak harus saya yang menjawab, para anggota milis boleh urun saran dan jawaban,” kata Ivan merendah.

            Setelah mematenkan metris pada 2005, Ivan berencana membuat buku agar metode itu bisa lebih mudah dipelajari langsung oleh siswa sekolah dasar.  Masih ingin menemukan sesuatu yang baru lagi?” Mungkin bukan sesuatu yang baru tetapi lebih kepada aplikasi metris, contohnya metris bisa dimanfaatkan dalam program komputer.”

            Tampaknya, hasrat keingintahuan Ivan belum jua terpuaskan.  Ia pun tak akan pernah berhenti mencari jawaban. (M-2)

 


_______________________________________________________________________

T A M U  K I T A
 MEDIA INDONESIA ¨ MINGGU, 28 JANUARI 2007

 O L E H    P R I H AN D H I N I

 ‘WHO Am I ?’

             Ada sebuah pertanyaan yang cukup mengusik benak Ivan.  Who am I?  Itulah pertanyaan singkat yang mampu membuatnya berpikir keras.  Seorang temannya menyatakan untuk apa ia repot-repot mencari jawaban atas pertanyaan itu, namun bagi Ivan, pertanyaan itu mempuanyai arti dan suatu makna sehingga ia harus mengobservasi dan mengeksplorasinya.

            Lalu, siapa Stephanus Ivan Goenawan sesungguhnya?  Ia menjawab, proses pencarian jati diri membuatnya akan selalu berubah.  Menurutnya pengalamanlah yang akan mendorong manusia untuk bergerak maju.  “Pribadi seseorang sebenarnya dibentuk oleh pengalaman yang kita peroleh.  Pengalam itu bisa berefek positif, bisa juga negatif, tergantung bagaimana kita menyerapnya.  Tidak ada di dunia ini yang tetap sehingga saya tidak menjamin lima tahun ke depan saya akan tetap seperti sekarang ini.” Paparnya bijak.

            Ivan melanjutkan, sering kali perubahan itu tidak disadari sehingga manusia mudah terhanyut oleh kehendak orang lain.  Akibatnya, kita tidak bisa mengontrol diri sendiri menjadi sesuatu yang lebih baik.  Karena pemikiran itulah, tak mengherankan jika sejak remaja ia sudah memiliki visi hidup sendiri.

            Pria berusia 32 tahun ini mengaku, saat masih kanak-kanak prestasinya biasa-biasa saja.  Menurutnya, masih banyak orang yang lebih pintar dari dirinya.  Karena tidak fokus, mereka tidak menghasilkan sesuatu yang monumental.

            Pernah suatu kali ia bertemu dengan seorang profesor matematika di UGM yang dianggapnya jago dalam bidang itu.  Tetapi si profesor justru berkata, “Meskipun orang lain menganggap saya pintar matematika, tapi mungkin saya hanya menguasai paling tidak 5% saja.  Matematika itu sangat luas.”

            Itu sebabnya ia menerjuni bidang matematika yang paling dasar yaitu aritmatika, yang diuliknya dalam metris.  Meskipun menyukai matematika, ia justru memilih fisika saat memasuki bangku kuliah.  Tetapi hal itu bukan berarti ia tidak fokus dengan visinya.  Ia beralasan, matematika bisa dipelajari secara autodidak.  Baginya, fisika dan matematika bukanlah sesuatu yang terpisah.  “Matematika itu kan ibarat alat.  Saya tidak ingin peralatan itu disimpan di gudang, tetapi digunakan untuk mengeksplorasi hal lain, misalnya fisika.  Toh dua-duanya bermain dengan angka juga,” paparnya.

            Namun ia mengakui kalau sesungguhnya tetap ada rasa ingin tahu yang begitu dalam pada ilmu fisika.  “Ujung-ujungnya supaya batin ini tenang, ha-ha-ha,” tambahnya sambil tertawa.  Seraya bercanda, Ivan mengatakan rasa ingin tahunya memang sudah tertanan dalam gennya.  Sebagai seseorang yang bergelut di dunia pendidikan, Ivan selalu ingin memberi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.  Sesuai dengan prinsip hidupnya yang selalu ingin melayani dalam bidang ilmu pengetahuan. (PD/M-2)   

 
< Prev   Next >