Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow Tahap Pengenalan Bilangan: Masa Kritis bagi Anak
Tahap Pengenalan Bilangan: Masa Kritis bagi Anak Print E-mail
Written by Alexander   
Thursday, 12 March 2009

Dasar dari proses belajar awal matematika dan angka-angka hendaknya telah dibangun sejak anak-anak berumur tiga tahun. Tentunya di sini bukan kemudian si anak harus dijejali dengan materi menghitung atau dipaksakan untuk mencongak. Tetapi lebih kepada pengenalan Simbol Angka dan Konsep Asosiasi Posisi secara dini dan tentunya dengan cara yang kongkrit serta menyenangkan bagi anak itu sendiri. Manfaatkan segala sesuatu yang ada dalam lingkungan si anak. Menghitung jumlah mainannya, jumlah tangga dalam rumahnya atau menghitung pepohonan yang ada di depan rumah adalah contoh dari kesempatan yang tidak terbatas bagi orang tua dan guru untuk merangsang pengertian anak akan angka-angka. Jika angka-angka dipelajari sebagai rutinitas sehari-hari, maka anak-anak akan mulai dapat menghitung sendiri benda-benda disekitarnya ketika dia sedang bermain.

Yang perlu ditekankan pada tahap pengenalan ini, janganlah mengajarkan sesuatu yang bersifat abstrak seperti simbol angka, karena hal ini sukar untuk dipahami oleh anak-anak tersebut. Tetapi mulailah dari hal-hal yang bersifat kongkrit dan menggunakan kata-kata alih-alih menggunakan simbol Angka untuk mengenalkan konsep bilangan tersebut. Gunakan segala sesuatu yang disenangi anak-anak sebagai kunci dalam proses mengajarnya. Baru kemudian setelah anak secara intuitif memahami apa yang sedang dikerjakannya, mulai diperkenalkan dengan simbol Angka satu per satu. Sebenarnya angka-angka bertebaran disekitar kita: waktu uang, ukuran, umur, tanggal, irisan kue dan jumlah buah-buahan. Orang tua dapat selalu mengingatkan waktu kapan si anak dapat menonton acara favoritnya, sambil menunjukkan angka-angka yang ada pada jam. Juga mulai ajarkan arti Ulang Tahun yang sebenarnya sehingga ketika mulai mendekati hari-hari ulang tahun yang sangat diharapkannya, anak akan diam-diam mulai menghitungnya.   

Selanjutnya sekitar umur lima tahun, minat anak terhadap angka akan tumbuh sangat besar secara alamiah bila sejak kecil telah diperkenalkan pada konsep angka secara kongkrit. Karena itu sebenarnya tidak perlulah orang tua untuk memaksakan anak untuk belajar berhitung sebelum mereka sendiri merasa berminat, tugas orang tua dan guru yang terutama adalah merangsang minat anak terhadap bilangan sejak dini (sekitar umur tiga tahun). Sekarang pada umur lima tahun saatnya memperjelas dan menyusun konsep-konsep Angka dari fakta-fakta yang telah anak pahami secara intuitif. Pada awalnya, secara intelektual anak tidak mengerti konsep-konsep Angka, namun ia sudah mempunyai pengertian tersebut secara intuitif dan perlahan-lahan perlu dituntun menuju suatu pemahaman intelektual akan kuantitas secara simbolik. Maka sekaranglah saatnya memperkenalkan proses belajar formal kepada anak, dimulai dengan pengenalan simbol Angka dan Konsep Asosiasi Posisi yang merupakan dasar Matematika. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan operasi-operasi dasar seperti penjumlahan dan pengurangan.

Melalui latihan-latihan sensoris sejak sekitar umur tiga tahun, proses pengenalan angka sebenarnya secara perlahan-lahan telah terbentuk dalam pikiran anak. Yang menjadi dasar dari latihan sensoris ini adalah gagasan tentang Kuantitas dan Gambaran Identitas (Persamaan dan Perbedaan). Sebagai contoh adalah, seorang anak melihat sebuah batang cuisenaire (Cuisenaire rods) yang berwarna-warni dan panjang batang tersebut disesuaikan sehingga dapat merepresentasikan angka-angka yang berurutan. Pengenalan terhadap batang cuisenaire ini merupakan fondasi bagi proses pembelajaran angka secara visual dang kongkrit dan kemudian pembelajaran ini harus diulang lagi dalam angka-angka yang aktual di saat anak berumur sekitar lima tahun.

Sistem Desimal adalah merupakan dasar sistem angka kita. Oleh karena itu, pemahaman angka-angka yang teliti dari satu sampai sepuluh – angka tertulis sekaligus kuantitas yang dilambangkan oleh angka tersebut – yang sangat diperlukan jika anak ingin memahami sepenuhnya soal-soal matematika yang akan dijumpai di masa mendatang. Sistem Desimal hanya menggunakan sepuluh simbol angka (0 s.d 9) tersebut, yang kemudian digunakan untuk merepresentasikan semua bilangan dengan menggunakan asosiasi posisi sepuluh angka tersebut. Oleh karena itu sejak awal perlu pula ditekankan pengenalan terhadap Konsep Asosiasi Posisi ini pada siswa, terutama sebagai pengenalan simbol Notasi Pagar.

Dengan menggunakan materi-materi yang kongkrit dan dalam bentuk permainan untuk mempelajari konsep-konsep matematika dasar, anak diharapkan tidak akan menemui kesulitan untuk memahami konsep dan ketrampilan matematika dasar. Di sini, anak diharapkan mampu memindahkan benda-benda yang sedang dihitung untuk mendapatkan kuantitas-kuantitas yang sebenarnya. Kepuasan dalam penemuan inilah yang mengarahkan antusiasme anak pada angka-angka, terutama bila ia dapat mendemonstrasikan operasi matematika dasar kepada guru atau teman-temannya, daripada dikuliahi fakta-fakta yang kosong dan tanpa makna bagi mereka. Jadi dalam tahap pengenalan bilangan ini, pendidikan yang kongkrit diimplementasikan dengan cara anak secara fisik memegang kuantitas-kuantitas yang mewakili simbol-simbol angka tertulis. Dan anak tersebut memadukan materi, hitungan, pemisahan dan membandingakan dengan visual, audio dan juga sentuhan untuk memperkuat gagasan-gagasan kuantitatif secara nyata, bukannya hanya bersifat abstrak bagi si anak tersebut. Perlu diingat pula bahwa cara pengajaran ini harus membiarkan anak mencapai pemahamannya sendiri sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya sendiri, peran orang tua dan guru adalah untuk memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan intelektual mereka.

Hal  lain yang perlu diperhatikan dalam mengajar anak kecil adalah perlunya Pengulangan materi dengan topik yang sama tetapi dengan bermacam-macam objek yang berbeda yang dapat digunakan dalam proses pengajarannya. Dengan mengajarkan secara kongkrit dengan menggunakan objek yang berbeda-beda, konsep yang abstrak sehingga menjadi kurang jelas bagi anak menjadi gamblang karena anak tidak hanya melihat konsep tersebut pada satu objek saja tetapi menemukan pula konsep tersebut pada objek-objek yang lain. Melalui pengulangan ini, konsep abstrak ini dimengerti bukan hanya sekedar dihafalkan saja. Dan begitu konsep abstrak benar-benar dipahami anak, ia akan dapat menerapkan pada semua objek yang berhubungan dengan konsep tersebut. 

Akhirnya ada tiga teknik mengajar dasar yang perlu digunakan dalam mendidik anak, yaitu :

1. Pengenalan Identitas, di sini orang tua atau guru menunjukkan nama benda sekaligus mengucapkan, misalnya sambil memegang kelereng, mereka mengucapkan ”Ini adalah kelereng”.

2. Penegasan, di sini orang tua atau guru ingin meyakinkan kalau anak memahami akan identitas suatu benda dengan cara memberikan sebuah perintah, misalkan ”Berikan saya dua buah kelereng”.

3. Pembedaan, di sini orang tua dan guru ingin mengetahui apakan anak dapat membedakan suatu benda dengan benda yang lain, misalnya dengan menunjuk suatu kelereng, mereka mengatakan, ”Benda apakah ini?”. Bila anak bisa menjawab kemudian bisa diteruskan dengan pertanyaan, ”Berapakah jumlahnya?”

Ketiga teknik pengajaran ini perlu diulang-ulang untuk setiap topik yang diajarkan kepada siswa dengan cara mengganti objek-objek yang digunakan sebagai alat bantu mengajar. Teknik ini juga digunakan untuk memastikan apakah anak memahami apa yang sedang mereka kerjakan. Selanjutnya dapat dilanjutkan ke topik yang lebih sulit bila anak telah benar-benar menguasainya, tetapi hal ini harus disesuaikan dengan kecepatan anak tersebut menangkap konsep yang diajarkan. 

 

Penulis: Alexander Agung Santoso Gunawan 

Last Updated ( Saturday, 08 June 2013 )
 
< Prev   Next >