Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow Do and Don't when teaching math
Do and Don't when teaching math Print E-mail
Written by Alexander   
Monday, 30 March 2009
Anak-anak mempunyai berbagai ragam kemampuan belajar, ada yang secara alamiah menyebabkan mereka mencintai Matematika. Tetapi tidak sedikit yang mengalami kesulitan dengan Matematika sehingga merasa menderita ketika menghadapi mata pelajaran ini.


Perhatikan beberapa reaksi yang umumnya terjadi ketika seorang anak menghadapi Matematika:

A. Anak yang memang berbakat dalam Matematika sehingga ia akan mengerjakan setiap soal dengan kegembiraan.

B. Kemudian anak yang mempunyai rasa ingin tahu dan semangat yang besar sehingga ia pantang menyerah dengan semua soal yang dihadapinya. Ia akan bersemangat untuk terus bertanya tentang Matematika.

C. Ada juga anak yang kesulitan dengan Matematika, kemudian ia menjadi tidak menyukai pelajaran tersebut. Ia akan cenderung untuk menghindari Matematika dengan sejuta alasan.

D. Nah yang terparah adalah anak yang tidak berbakat Matematika, dan pernah mengalami "penghinaan" atas kelemahan ini baik oleh guru aupun teman-temannya. Anak ini akan merasa geram dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Matematika.

Dengan mengamati reaksi seorang anak terhadap Matematika, dapat diberikan beberapa Tips singkat dalam mengajarkan pelajaran ini sebagai berikut:

1. Don't: Jangan menghukum Anak!

Seringkali orang tua merasa frustasi ketika mengajarkan seorang anak yang tidak berbakat Matematika karena harus berulang kali menjelaskan mengenai hal yang sama. Perlakuan terburuk orang tua terhadap anak adalah dengan spontan membentak, atau memukul dikarenakan rasa frustasi tersebut. Jika rasa frustasi ini muncul, ingatlah kembali masa kecil
kita. Bukankah kita selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan? Bukankah kita belajar berjalan setelah berkali-kali jatuh?

Kesuksesan dibangun oleh kesalahan-kesalahan yang berulang kali. Kesuksesan yang lebih besar dibangun oleh kesuksesan-kesuksesan kecil. Dengan kata lain sediakan waktu untuk menghargai anak anda, tidak peduli sekecil apapun pencapaiannya. Pengaruhnya sangat besar terhadap kepercayaan diri mereka!

2. Don't: Jangan pernah berkata anda membenci Matematika

Orang tua seringkali juga merasa kesulitan dengan pelajaran matematika sekarang ini yang amat berbeda dengan yang dipelajari mereka dahulu. Tetapi ingat jangan pernah berkata "tidak menyukai matematika" karena anak akan dengan cepat MENIRU orang tua mereka. Jika anak anda pernah mendengar orang tuanya tidak menyenangi matematika, maka mereka akan cepat bersikap yang sama ketika mendapat kesulitan dalam pelajaran
ini.

Lantas sebaiknya orang tua harus bersikap bagaimana? Jika orang tua ingin menginspirasi anaknya, jalan satu-satunya mereka harus berusaha MENCINTAI matematika. Orang tua harus mulai memperhatikan penggunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari. Ajari anak anda untuk menghitung umur mereka, untuk menghitung barang dan harganya ketika belanja di supermarket dst.

Di samping itu tentunya orang tua harus mau menyerap informasi yang berkaitan dengan Matematika, baik mengenai topik-topik matematika yang menarik ataupun cara mengajarkan topik tersebut.secara menyenangkan. Anak-anak itu ibarat spon (sponge), mereka dengan cepat menyerap segala sesuatu dari lingkungannya. Jika orang tua mempunyai rasa ingin tahu dan kecintaan yang kuat mengenai Matematika dan Ilmu Pengetahuan dengan cepat hal positif ini akan diserap oleh anak-anaknya.

3. Do: Jelaskan Matematika dalam bahasa yang dapat dipahami oleh Anak!

Seringkali karena ketidaktahuan akan tahap-tahap pembelajaran seorang anak, orang tua menganggap anak mereka lemah dalam Matematika. Ingat untuk selalu mulai dari hal-hal yang nyata dan dikenal oleh anak dalam menjelaskan segala sesuatu tentang matematika. Mungkin pada suatu tahap tertentu, anak menganggap Simbol angka (1,2,3 … ) merupakan hal yang abstrak dan tidak masuk akal bagi dirinya. Di sini orang tua harus peka dan kemudian mulai menjelaskan angka dengan cara membilang benda-benda di sekitarnya. Dan selanjutnya baru setelah anak dapat secara intuitif menangkap makna angka, maka mulai diperkenalkan simbol angka satu demi satu.

Dan kurikulum sekolah saat ini memang tidak manusiawi dengan memberikan begitu banyak beban pada anak yang semestinya belum ditanggungnya. Dengan adanya hal ini tugas orang tua menjadi semakin berat karena mereka harus menjadi jembatan untuk menjelaskan target pelajaran sekolah yang terlampau tinggi dalam waktu yang terbatas. Tetapi hal ini sangat dimungkinkan sekali jika orang tua mampu memahami tahap-tahap pembelajaran yang harus dilalui seorang anak untuk mempelajari matematika. Sebagai contoh misalnya seringkali di kelas Tiga SD sudah diajarkan soal cerita dengan topik penjumlahan dan pengurangan empat atau lima digit, misalnya sebagai berikut Andi membeli buku seharga 5.425, kemudian ia membeli alat tulis menulis seharga 7.750. Kemudian Andi membayar dengan uang 15.000, berapa kembalian yang akan diterima
oleh andi?

Perhatikan soal seperti di atas jelas akan membingungkan bagi siswa yang belum memahami benar konsep penjumlahan dan pengurangan, apalagi ditambah bentuk soal cerita yang akan membuat anak sukar untuk menangkap makna soal tersebut. Jika seorang anak mendapat kesulitan dalam soal seperti ini, cobalah untuk mempermudah soal tersebut. Hal ini dapat dengan menyajikan dalam bentuk penjumlahan dan pengurangan secara langsung, jika anak tersebut merasa kesulitan dengan bentuk soal cerita.
Atau orang tua dapat menyederhanakan soal tersebut dalam soal cerita yang hanya mengandung angka satu atau dua digit saja, jika anak masih kesulitan dalam menjumlahkan dan mengurangkan dalam digit yang banyak.
 
4. Do: Ingat selalu tujuan belajar matematika!

Apa tujuan orang tua dalam mengajarkan Matematika pada anak-anak:

    * Agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah.
    * Memastikan anak dapat mengerjakan ujian sekolahnya? Atau,
    * Supaya anak anda kelihatan lebih pandai dibandingkan yang lain……

Atau anda telah memunyai tujuan yang spesifik dalam mengajarkan Matematika, seperti:

    * Agar anak dapat menjumlahkan, mengurangkan dan mengalikan bilangan-bilangan.
    * Atau supaya anak dapat menguasai pembagian empat digit….

Sekarang pahamilah, bahwa tujuan seperti di atas hanyalah tujuan sementara saja. Sekarang pikirkan Tujuan Jangka Panjang untuk anak ketika mereka harus mempelajari Matematika. Pertimbangkan baik-baik tujuan-tujuan berikut ini:

    * Pertama agar anak dapat bertahan hidup dalam dunia yang semakin kompleks ini.

Hal ini mencakup bagaimana anak dapat mempertimbangkan keuntungan dan kerugian, melihat peluang bisnis, memprediksikan keuangan dst. Pendeknya dalam dunia yang semakin kompleks, seorang anak dituntut agar mampu berpikir secara mandiri agar mereka dapat bertahan hidup dengan layak.

    * Dan selanjutnya orang tua harus memahami bahwa mereka harus mempersiapkan anak untuk melanjutkan studinya dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan. Tidak setiap anak akhirnya memang membutuhkan pengetahuan mengenai Aljabar atau kalkulus, tetapi anda tetap tidak akan tahu apa profesi yang nantinya dipilih oleh anak. Oleh karena itu mempersiapkan anak agar mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
merupakan pilihan yang terbaik.
 
    * Akhirnya saya menambahkan satu tujuan yang lebih tinggi lagi yaitu mengajarkan berpikir deduktif. Dalam dunia dewasa ini, kemampuan untuk berpikir secara logis dan kreatif sangat diperlukan untuk mengembangkan kebudayaan yang sehat dan kondusif secara keseluruhan bagi peradaban umat manusia.

Semakin orang tua mampu memahami tujuan yang tertinggi dalam pikirannya,  semakin baik dalam memahami tujuan-tujuan sementara yang harus diajarkan pada anak mereka. Selanjutnya tentu akan mempengaruhi bagaimana orang tua akan mengajar anak dalam situasi sehari-harinya.

5. Do: Persiapkan alat dan metode untuk mengajar Matematika!

Tentunya yang pertama kali, orang tua harus mempersiapkan alat tulis menulis agar anak dapat belajar dengan baik. Kemudian perhatikan buku-buku dan kurikulum yang digunakan untuk mengajar, selanjutnya persiapkan alat-alat tambahan agar dapat mengilustrasikan Matematika dengan mudah pada anak anda. Alat ini termasuk juga Kalkulator dan Komputer untuk mempermudah pengajaran Matematika.

Selanjutnya orang tua perlu mempersiapkan metode yang menyenangkan dalam mengajarkan Matematika. Misalnya supermarket dapat dijadikan ajang untuk mengajarkan penjumlahan dan pengurangan dengan menghitung jumlah dan harga barang yang dibeli. Orang tua dapat pula menggunakan alat-alat permainan yang sering digunakan anak, seperti membangun bentuk-bentuk geometris, atau mengenalkan pembagian dengan membagi-bagi kelereng dst.
Selanjutnya orang tua dapat pula menyanyikan lagu-lagu yang mengajarkan angka, beserta operasi-operasi dasarnya seperti penjumlahan dan perkalian. Dapat pula mulai mengarahkan anak untuk melihat pola yang beulang yang muncul dalam kehidupan sehari-hari misalnya pola nomer rumah-rumah tetangga yang selalu bernomer genap atau bernomer ganjil.

Semakin menyenangkan cara mengajar matematika, semakin mudah anak mempelajarinya sekaligus juga membangkitkan rasa ingin tahu mereka secara alamiah.
 
Penulis: Alexander Agung Santoso Gunawan
Last Updated ( Saturday, 08 June 2013 )
 
< Prev   Next >