Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow Metris Thinking I
Metris Thinking I Print E-mail
Written by SIG   
Tuesday, 07 April 2009

BUDAYA BERPIKIR METRIS UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS TANPA KONFLIK DIRI

Budaya konflik secara sadar ataupun tidak sadar telah lama dibangun di lingkungan sekitar kita bahkan di lingkungan intelektual sekalipun.  Bentuk konflik yang diciptakan bisa berasal dari dalam diri maupun luar diri seperti percekcokan, perkelahian, pemerasan  bahkan  hingga pembunuhan. 

Mengapa konflik luar tersebut dapat terjadi?  Sebenarnya selama sumber konflik dalam diri tidak benar-benar dipahami maka sangat sulit konflik luar dapat dihentikan.  Sumber konflik dalam diri dihasilkan dari pemahaman yang tidak lengkap akan suatu masalah.  Belajar memahami sesuatu tidak terlepas dari bahasa yang digunakan.  Suatu bahasa tersusun dari sekumpulan kata-kata yang tentu saja telah diberi makna.  Sebuah kata mempunyai makna karena adanya perbedaan.  Kata ‘hitam’ bermakna karena ada lawan/ kombinasinya seperti kata ‘putih’ atau ‘merah’.

Kumpulan kata bermakna tersebut kemudian disimpan di dalam memori otak.  Apabila dicermati dengan seksama kumpulan kata tersebut sifatnya netral di dalam otak.  Kata ‘hitam’ tidak lebih hebat/ penting dibandingkan kata ‘putih’.  Penekanan salah satu kata/ kalimat dengan memaknai secara emosional membuat hal tersebut tidak lagi bersifat netral pada memori otak.  Keadaan ini sebenarnya penyebab dari sumber konflik di dalam diri.

Berpikir Metris, berhubungan dengan ritme-harmonik (KBBI), adalah berpikir secara harmonis yang selaras dengan alam, diri, otak. Melalui berpikir Metris akan memulihkan keadaan di atas, yaitu belajar memahami suatu masalah dari berbagai sudut pandang persepsi.  Dengan berpikir Metris konflik dalam diri dapat diredam karena menciptakan keselarasan/ harmonis di dalam otak.  Bila keselarasan otak tercipta maka pemahaman akan sesuatu di luar diri terlihat harmonis.

Pada tataran praktis ternyata berpikir Metris tidaklah semudah yang dibayangkan.  Salah satu penyebabnya karena sistem pendidikan yang bersifat doktrinasi dan otoriternya ilmu pengetahuan.  Apakah selalu berlaku pengetahuan ‘darah itu berwarna merah’ atau ‘daun itu berwarna hijau’?  Tentu saja bila mampu melihat dari persepsi yang lain hal tersebut belum tentu berlaku. Karena dengan argumentasi bahwa pengamat tersebut buta warna atau cahaya yang menerangi tak mengandung warna tesebut maka pernyataan ‘darah itu berwarna merah’ atau ‘daun itu berwarna hijau’ dengan sendirinya menjadi gugur.

Pengetahuan itu muncul karena pengklasifikasian dari sekumpulan kata-kata.  Secara teknis, seperti untuk membangun rumah atau jembatan, pengetahuan tersebut memang penting.  Tetapi pengklasifikasian kata-kata tersebut bila tak dipahami secara Metris menyebabkan penekanan yang tak seimbang pada memori otak.  Ketidak-harmonisan ini dapat mempengaruhi fungsi kerja organ tubuh yang berujung pada konflik dalam diri baik secara mental maupun fisik.

Kecerdasan Metris memahami semua proses tersebut, sehingga selalu mencoba mawas diri untuk selalu melihat masalah dengan berbagai sudut pandang berbeda.   Hal ini juga membuka kemungkinan kreativitas akan solusi baru yang muncul dari masalah yang sama. Menurut Newton bumi mengitari matahari disebabkan pengaruh gravitasi matahari, namun Einstein mampu melihat dengan persepsi lain sehingga tercipta teori relativitas umum yang terkenal tersebut, bahwa bumi mengitari matahari karena kelengkungan ruang-waktu akibat pengaruh benda bermassa. 

Kreativitas dapat muncul dalam diri bila pikiran tidak dibatasi oleh pengetahuan/ pengklasifikasian kata-kata yang kaku.  Sebenarnya berbagai macam pengklasifikasian yang saling berlawanan, seperti  ‘Tuhan itu Maha Baik’ dan ‘Bencana ada di mana-mana’,  bila tak dipahami secara lengkap akan muncul kontradiksi dalam pikiran.  Keadaan ini menimbulkan ketidak-harmonisan di dalam memori otak yang akan menghamburkan energi  secara sia-sia. 

Pemborosan energi ini tentu saja cepat melelahkan fungsi kerja otak sehingga menyebabkan malas berpikir.  Kelembaman untuk berpikir makin mengekalkan pengklasifikasian di dalam memori otak.  Hal ini menyebabkan makin banyak pembuangan energi secara sia-sia dalam diri. Bila dicermati proses ini akan berujung pada lingkaran setan yang makin besar.  Berpikir Metris berusaha  keluar dari lingkaran tersebut.

Kemampuan melihat dan memahami dari berbagai macam sudut pandang, misal ‘Tuhan itu Maha Baik’ dan ‘Bencana ada di mana-mana’ bukanlah sesuatu yang bertentangan, akan menciptakan keharmonisan di dalam otak.  Bila otak dalam keadaan selaras maka pemborosan energi hasil pengklasifikasian dapat makin direduksi.  Hal ini menyebabkan otak dapat bekerja secara optimal dan kemungkinan munculnya sesuatu hasil yang kreatif dari otak makin besar.

 

2. Berpikir Metris

 

Praktisi yang akan belajar berpikir Metris mula-mula harus mampu berhenti untuk menyalahkan atau membenarkan sesuatu secara mutlak.  Karena sesuatu tersebut diklasifikasikan sebagai salah/ benar tergantung dari sudut pandang yang digunakan oleh pengamat.  Bila seorang pengamat mampu mempersepsikan sesuatu bernilai salah/ benar berdasarkan argumentasi yang logis maka sebenarnya pengamat tersebut sudah berpikir secara Metris. 

Belajar yang efektif dapat dilakukan dalam sebuah grup kecil antara 2 – 5 orang.  Dalam grup tersebut setiap anggota bebas mengemukakan argumentasi menurut persepsi mereka masing-masing.  Argumentasi yang dikemukakan sebaiknya berasal dari suatu masalah yang menurut pemahaman kelompok belum lazim.

  Contoh kasus semisal pernyataan: ‘pagi, siang dan malam itu hal yang berbeda’, secara umum peserta grup telah memahami pernyataan tersebut.  Bila akan masuk berpikir Metris pernyataan tersebut harus dinegasikan dan setiap anggota harus berusaha menemukan argumentasi yang tepat dan logis bahwasanya: ‘pagi, siang dan malam itu hal yang sama’.

Anggota 1: ketiganya menunjukkan ukuran waktu.

Anggota 2: di tempat ini pagi, di daerah lain bisa jadi siang bahkan di negara lain malam hari.

Anggota 3: fenomena alam yang disebut pagi, siang atau malam adalah hasil dari konfigurasi tatasurya: matahari, bumi dan bulan.

 

Contoh yang lain pernyataan: ‘atas dan bawah adalah sesuatu yang berbeda’.  Bila pernyataan tersebut dinegasikan, menjadi: ‘atas dan bawah adalah sesuatu yang sama’.  Kemudian setiap anggota grup berlatih berpikir untuk memberikan argumentasi yang logis, seperti:

Anggota 1: ketiganya sama-sama menunjukkan arah,

Anggota 2: bila kita menunjukkan arah ‘atas’ sebenarnya dibelahan benua lain yang berseberangan, arah yang ditunjuk adalah ‘bawah’.

Anggota 3: seorang astronot yang berada di luar angkasa mengetahui dengan jelas bahwa sebenarnya yang dinamakan atas dan bawah sangat relatif. Saat posisi astronot pertama berlawanan dengan kedua, maka arah ‘atas’ menurut astronot pertama ternyata bagi astronot kedua merupakan arah ‘bawah’, jadi atas dan bawah dari persepsi ini adalah sama. Lanjutan II  

 

Penulis: Stephanus Ivan Goenawan

Last Updated ( Thursday, 23 April 2009 )
 
< Prev   Next >