Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow Metris Thinking II
Metris Thinking II Print E-mail
Written by SIG   
Tuesday, 07 April 2009
Bila dicermati secara seksama perjalanan sejarah manusia dari ratusan ribu, puluhan ribu hingga ribuan yang lampau, dapat dilihat dari fosil yang telah ditemukan, struktur tubuhnya makin kompleks, khususnya susunan otaknya yang dapat dilihat dari makin besarnya volume otak manusia.

 3. Evolusi Kecerdasan Manusia

 Fungsi anggota tubuh yang makin kompleks diikuti oleh meningkatnya kecerdasan tubuh sebagai koordinator antar fungsi anggota tubuh sehingga dapat bekerja secara sinkron. Dengan meningkatnya kecerdasan tubuh, potensi otak sebagai pusat memori juga makin besar kapasitasnya.  Hal inilah yang menyebabkan perubahan bahasa isyarat menjadi bahasa simbol dan terus berlanjut hingga menjadi bahasa simbol/ tulisan yang komplek seperti sekarang ini. 

Dari bahasa simbol  manusia meninggalkan jejak/ prasasti/ tulisan.  Jejak yang ditinggalkan tersebut melahirkan budaya dan pengetahuan.  Budaya dan pengetahuan berkembang menciptakan simbol/ tulisan yang baru sehingga berujung makin komplek.  Proses ini bila dicermati merupakan lingkaran tertutup yang makin besar.

Pengetahuan adalah sesuatu hal yang telah diketahui yang disimpan dalam memori otak.  Dengan proses belajar maka pengetahuan tersebut  makin terakumulasi.  Penumpukan pengetahuan di dalam memori membuat pengetahuan makin komplek.  Hal ini mendorong kecerdasan manusia makin bertambah dan kecerdasan tersebut dapat disebut kecerdasan otak.  Dinamakan demikian karena muncul dari otak yang berpotensi mampu menyimpan dan mengolah informasi yang komplek.

Pengetahuan, sesuatu hal yang telah diketahui, merupakan bentuk hubungan/ relasi antar sesuatu yang telah diklasifikasikan.  ‘Bunga itu indah’, ‘Api itu panas’, ‘Ular itu berbahaya’ dan ‘Gula itu manis’, adalah beberapa contoh dari pengetahuan sederhana.  Pengetahuan yang makin komplek berkolerasi dengan kecerdasan otak yang makin meningkat. 

Dari persepsi yang telah dijelaskan sebelumnya maka kecerdasan tubuh akhirnya akan melahirkan kecerdasan otak.  Pada perkembangan selanjutnya apakah kemunculan kecerdasan otak tersebut pada umumnya dapat bekerja secara harmonis dengan kecerdasan tubuh?  Siapakah yang membutuhkan rokok? Siapakah yang membutuhkan alkohol?  Siapakah yang membutuhkan makanan berlebihan hingga kelebihan berat badan?  Siapakah yang membutuhkan kerja berlebihan?  Faktor apa yang bertanggungjawab terhadap hal ini?  Apakah faktor itu yang dinamakan ‘keinginan’?  Bila ya, lalu dari manakah ‘keinginan’ tersebut muncul?  Bukankah hal itu berasal dari kecerdasan otak yang muncul dari pengklasifikasian komplek?

Bila dicermati dengan hati-hati kecerdasan otak lebih banyak menciptakan ketidakharmonisan dengan kecerdasan tubuh.  Hal ini berakibat pada dapat terganggunya fungsi kerja organ tubuh dan pengorganisasian kerja antar organ tubuh.  Mengapa kecerdasan otak yang begitu diagung-agungkan akhirnya beroperasi seperti itu? 

Pengklasifikasian yang diberi penekanan berlebihan menciptakan faktor emosi,  salah satunya ‘keinginan’ yang telah disinggung sebelumnya.  Penekanan berlebihan tersebut di dalam otak sendiri menghasilkan ketidakselarasan/ ketidakseimbangan.  Mengapa?  Akan lebih mudah bila penjelasannya menggunakan ilustrasi.  Ilustrasi pertama semisal papan yang ditekan ke dalam air akan memberikan resistensi/ pertahanan yang makin besar bila ditekan makin dalam.  Ilustrasi kedua, sebuah balon bila ditiup akan makin besar secara seimbang bila ketebalan kulit balon tersebut merata.  Bagaimana akibatnya bila tidak?  Sudah barang tentu mengembangnya tak sinkron, bisa terjadi tonjolan, sehingga balon mudah meletus.

Ketidakseimbangan di dalam otak, akan berpengaruh pada kecerdasan tubuh.  Pengaruhnya antara lain dapat berupa terganggunya fungsi pengorganisasian antar organ tubuh atau dengan kata lain terjadi penurunan kecerdasan tubuh.  Maka bila tak disadari justru makin tinggi kecerdasan otak akan menjadi penurunan bagi kecerdasan tubuh.   Oleh karena itu perlu adanya pemahaman ulang akan apa yang dinamakan ‘kecerdasan otak’. 

Arah evolusi manusia yang penting saat ini dan seterusnya bukan lagi secara fisik melainkan secara mental.  Di mana prosesnya semakin tinggi kecerdasan otak tetapi tidak terjadi penurunan pada kecerdasan tubuh.  Bagaimana caranya?  Di dalam otak sendiri harus ada keselarasan/ keharmonisan.  Pengetahuan/ pengklasifikasian yang kaku justru menciptakan kondisi tak harmonis di dalam otak.

Jalan keluarnya dengan bentuk pengklasifikasian yang tak kaku.  Dengan kata lain belajar melihat masalah dari berbagai macam sudut pandang, dengan tidak memberikan penekanan yang berbeda pada salah satu sudut pandang.  Cara berpikir tersebut dinamakan berpikir secara Metris.  Pengetahuan seperti itu bila  disimpan di memori otak tidak membuat penekanan pada otak.  Bila otak sehat maka kecerdasan tubuh, di mana otak merupakan salah satu bagiannya, tentu saja akan bekerja secara lebih sinkron.

 4. Penutup

Dari penjelasan sebelumnya maka telah diketahui betapa penting berpikir Metris.  Kemampuan melihat sesuatu hal dari banyak persepsi, mampu melihat sesuatu hal dengan lawan/ negasinya sama benar, merupakan kecerdasan otak yang tak merusak sifatnya di dalam otak.  Kemampuan tersebut mempunyai keindahan tersendiri karena bila diilustrasikan seperti mampu melihat dua sisi keping mata uang secara bersamaan bila didepannya tersedia cermin yang tak buram.  Otak Metris ibarat cermin yang jernih, sehingga mampu melihat masalah dari sisi yang berbeda.

Kata ‘Toleransi’ terlihat begitu indah, apalagi setelah kaum agamawan yang berbeda tak mampu menghilangkan perbedaan antar mereka.  Sehubungan dengan hal itu merupakan tindakan tepat pemimpin tertinggi katolik yang telah wafat, Paus Yohanes Paulus II, berkeliling hampir keseluruh dunia untuk menebarkan semangat toleransi antar agama.  Kata ‘tepat/ baik’ merupakan sebagian sisi dari sekeping mata uang, mampukah melihat sisi yang lain? 

Bukankah kalau dicermati dari sudut pandang tertentu, bila kata ‘Toleransi’ dijunjung tinggi bukankah berarti sama saja mengekalkan adanya perbedaan.  Lalu apakah sebenarnya perbedaan tersebut ada?  Bila ternyata mampu memahami bahwa perbedaan tersebut tak ada, apakah masih perlu kata ‘Toleransi’?  Berpikir Metris berusaha untuk mencapai pemahaman tersebut.  Tetapi masih adakah ketertarikan dan kemauan untuk berpikir Metris.  Energi berpikir, akibat pengklasifikasian yang kaku, terbuang secara sia-sia hingga membuat malas untuk berpikir dari sudut pandang berbeda. 

Berpikir Metris bukanlah sesuatu yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Hal ini disebabkan sejak awal budaya pendidikan mengajarkan model pengklasifikasian tak fleksibel. Pertanyaan penutup dari tulisan ini adalah apakah manusia dengan akal budinya akan menyerah begitu saja?  Apakah manusia mampu menghasilkan kreativitas tanpa konflik di dalam diri?

 

Penulis: Stephanus Ivan Goenawan

Last Updated ( Wednesday, 08 April 2009 )
 
< Prev   Next >