Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow POSISI METRIS terhadap METODE HITUNG lainnya I
POSISI METRIS terhadap METODE HITUNG lainnya I Print E-mail
Written by SIG   
Monday, 13 April 2009

Dalam melakukan perhitungan ada berbagai metode hitung yang dapat kita gunakan.  Metode hitung standar yang telah banyak diketahui oleh kita adalah metode vertikal.  Proses hitung dengan metode ini dilakukan secara vertikal dari atas menuju ke bawah.  Karena metode ini telah diajarkan berabad-abad secara turun temurun oleh guru-guru di sekolah atau orang tua kepada anak-anaknya maka dengan alasan itu metode ini dapat juga disebut sebagai metode tradisional.

Namun sebenarnya metode hitung di dunia ini sangat banyak seperti metode sempoa, Trachtenberg, mathmagic, mathemagic, vedic, mathflash, polamatika, jarimatika dan mungkin masih banyak lagi.  Tentu saja yang terakhir adalah metode horisontal atau metris yaitu metode hitung yang dilakukan secara mendatar.  Kemudian pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah dimanakah posisi metris terhadap metode hitung yang lain tersebut? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mula-mula yang dilakukan adalah mengklasifikan dulu metode hitung menjadi dua bagian besar yaitu metode hitung tak berpola dan metode hitung berpola.  Metode hitung tak berpola adalah metode hitung berdasarkan aturan-aturan standar yang dapat digunakan dalam operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian untuk sembarang bilangan atau bilangan tersebut tidak berpola.  Sedangkan metode hitung berpola adalah metode hitung berdasarkan aturan-aturan tertentu tergantung pola bilangan yang akan dioperasikan baik itu untuk operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian. Tujuan dari metode hitung berpola ini adalah agar perhitungan dapat lebih cepat atau lebih mudah dipelajari oleh siswa.  Konsekwensi logis menggunakan metode hitung berpola adalah rumusnya dapat menjadi banyak tergantung jenis pola bilangan yang akan dieksekusi.

Metode hitung tak berpola masih terbagi menjadi dua yaitu yang menggunakan simbol matematika dan yang tidak menggunakannya. Contoh metode hitung tak berpola yang menggunakan simbol matematika adalah metode vertikal yang umumnya telah dipelajari di sekolah dasar.  Metode hitung vertikal dapat dipelajari di sekolah-sekolah karena metode ini telah masuk ke dalam pelajaran kurikulum yang diwajibkan oleh pemerintah. 

Sedangkan contoh metode hitung tak berpola yang tidak menggunakan simbol matematika adalah metode sempoa.  Pada metode sempoa sebagai sarana pembelajaran berhitung menggunakan untaian manik-manik yang umumnya dinamakan sempoa.  Kelebihan dari metode ini adalah mudah divisualisasi oleh siswa, sehingga siswa dalam berhitung dapat dilatih masuk ke dalam tahap mental.  Namun, disisi lain juga mempunyai kelemahan yaitu siswa akan sangat kesulitan menjelaskan kepada orang lain bagaimana proses hitung terjadi hingga diperoleh hasil akhir.

Metode hitung seperti Trachtenberg, Mathmagic, Mathemagic, Vedic, Mathflash, Polamatika atau Jarimatika masuk ke dalam klasifikasi metode hitung berpola.  Metode ini mempunyai kesamaan pola yaitu dalam menyelesaikan perhitungan bilangan yang akan dieksekusi mempunyai pola tertentu.  Konsekwensi logis dari hal ini adalah banyak rumus yang dihasilkan, karena tiap pola bilangan yang berbeda akan mempunyai rumus yang berbeda pula.

Jenis metode hitung berpola bisa menjadi banyak karena metode ini lahir dari daya kreativitas para penemunya.  Tentu saja melalui keteraturan pola angka yang dihasilkan dari operasi tertentu contohnya seperti operasi perkalian.  Bila seseorang yang mempunyai daya kreativitas tinggi mampu melihat pola keteraturan bilangan tersebut maka dia juga dapat merumuskannya.  Kelebihan dari metode hitung berpola ini adalah seseorang dapat dengan mudah dan cepat mengeksekusi soal yang berpola.  Kelemahannya adalah rumus untuk mengesekusi soal berpola jadi banyak sehingga menyulitkan seseorang karena butuh kemampuan memori yang besar di dalam otaknya. Nah, kelemahan ini yang menjadi salah satu alasan mengapa metode hitung berpola sangat sulit masuk kedalam pelajaran kurikulum di sekolah-sekolah. Lanjutan II     

 

Penulis: Stephanus Ivan Goenawan

Creator Of Metris

Last Updated ( Thursday, 23 April 2009 )
 
< Prev   Next >