Menu Content/Inhalt
Home arrow Articles arrow THE END OF ARITHMETIC : AKHIR ILMU HITUNG
THE END OF ARITHMETIC : AKHIR ILMU HITUNG Print E-mail
Written by SIG   
Monday, 18 May 2009

Setelah membaca tulisan di atas tentu saja akan memancing kita untuk bertanya, apa maksud dari judul tersebut?  Apakah akhir ilmu hitung akan membuatnya sudah tidak mampu berkembang lagi?  Semua pertanyaan yang mengganjal tersebut akan coba dijawab melalui pembahasan di bawah ini.

Aritmatika merupakan ilmu hitung dasar khususnya untuk operasi mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Telah sangat lama, berabad-abad, manusia mengenal dan memahami aritmatika.  Demikian pula telah sangat lama, hal yang tak mungkin dapat dihindari, manusia juga mengenal dan memahami makna nilai tempat sebuah bilangan, yaitu mulai dari angka satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya.   

Walaupun aritmatika telah dikenal sangat lama, namun di dalam aritmatika itu sendiri ada sesuatu yang terlupakan.  Sesuatu itu dapat terlupakan karena mungkin saja dianggap kurang penting.  Padahal tanpa sesuatu itu maka tidaklah heran bila hingga saat ini aritmatika cepat atau metode hitung berpola nampak tercerai berai.  Beberapa metode hitung berpola mulai yang berasal dari dalam negeri seperti metode mathflash, polamatika, jarimatika hingga yang berasal dari luar negeri seperti metode trachtenberg, mathmagic, mathemagic, vedic dan tentu saja masih banyak lagi.

Nah, sesuatu yang terlupakan tersebut adalah kurangnya penekanan akan nilai tempat suatu angka.  Melalui Metris atau metode horisontal maka penekanan nilai tempat suatu angka dapat dilakukan dengan  menggunakan notasi pagar ( | ).  Notasi pagar ini berfungsi sebagai pembatas yang jelas akan nilai tempat satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya.

Akhir ilmu hitung adalah diawali lahirnya Metris dengan notasi pagarnya sehingga membuat aritmatika menjadi sempurna.  Melalui notasi pagar yang dibangun oleh metris maka semua model aritmatika cepat dapat disatukan. Kesempurnaan aritmatika tersebut tercemin melalui kemampuan menyatukan semua metode hitung berpola sehingga tidak tercerai berai lagi.

Kekurangan dari metode hitung berpola tanpa menggunakan notasi pagar adalah ketidak mampuan metode tersebut untuk membuktikan kebenarannya secara matematik oleh dirinya sendiri.  Pembuktian tersebut hanya dapat dilakukan secara tidak langsung yaitu melalui ilmu aljabar.  Nah, akan sangat berbeda bila model aritmatika cepat dibangun menggunakan notasi pagar, karena kebenaran secara matematik dapat dibuktikan secara langsung oleh Metris.

Setelah menelusuri penjelasan di atas, maka akhir ilmu hitung ternyata tidak menyebabkan perkembangan aritmatika berhenti melainkan justru sebaliknya.  Perkembangan aritmatika terutama metode berhitung berpola menjadi terus meningkat.  Hal ini dapat terjadi karena melalui kemampuan menyatukan model aritmatika cepat membuat daya kreativitas dalam meluaskan pola-pola sebelumnya dan mencari keteraturan pola-pola bilangan baru juga akan makin bertambah.  Bukan hanya itu saja, berpikir secara logika deduksi juga akan meningkat melalui kemampuan dalam membuktikan secara matematik keteraturan pola-pola baru.  Selanjutnya pola-pola baru tersebut di dalam Metris dinamakan sebagai Portal atau pola horisontal.

Penulis: Stephanus Ivan Goenawan

Creator Of  METRIS

Last Updated ( Monday, 18 May 2009 )
 
< Prev   Next >